Beranda » Di Balik Ibadah Kamis Sore: Kisah Penyuluh Agama Kristen Kemenag Malang Melayani Umat di GPDI Gumuk

Di Balik Ibadah Kamis Sore: Kisah Penyuluh Agama Kristen Kemenag Malang Melayani Umat di GPDI Gumuk

Kabupaten Malang, Persindonesia.co.id — Kamis sore di GPDI Gumuk, Kabupaten Malang, berlangsung seperti ibadah mingguan biasa. Jemaat duduk, pujian mengalun, dan firman Tuhan disampaikan. Namun di antara mereka, ada sosok yang datang bukan hanya sebagai jemaat, melainkan sebagai penyuluh agama Kristen Kementerian Agama Kabupaten Malang.

Yafeta Lalenoh, namanya. Saat ditemui awak media, Kamis (29/10/2026), ia menjelaskan bahwa kehadirannya di tempat itu merupakan bagian dari pelaksanaan tugas dan fungsi Kemenag.

“Setiap minggu, sementara kami di sini posisinya adalah melaksanakan tugas dan fungsi kami Kementerian Agama, sebagai penyuluh agama Kristen Kementerian Agama Kabupaten Malang, yaitu untuk mendukung gereja-gereja lokal melayani umat-umat Tuhan,” ujarnya.

Kalimat itu sederhana, tetapi menyimpan makna yang dalam. Di balik jabatan dan tugas formal, ada pelayanan yang menyentuh kehidupan jemaat sehari-hari.

Jemaat GPDI Gumuk mengikuti ibadah rutin pada Kamis sore.
Penyuluh Agama Kristen Kemenag Kabupaten Malang Yafeta Lalenoh melayani ibadah rutin di GPDI Gumuk, Kamis (29/10/2026).

Ketika Penyuluh Turun ke Gelanggang Pelayanan

Yafeta tidak hanya hadir sebagai tamu. Ia terjun langsung membantu pelayanan, mulai dari memimpin pujian, berdoa, hingga menyampaikan firman Tuhan.

“Kami juga terjun langsung membantu pelayanan seperti tadi, kami memimpin ibadah yaitu memimpin pujian, berdoa, kemudian menyampaikan firman Tuhan. Jadi memang khusus satu bulan sekali kami melayani di tempat ini, membantu bapak gembala di tempat ini melayani jemaat,” jelas Yafeta.

Ada kehangatan dalam cara ia menjelaskan. Ia tidak berbicara tentang tugas sebagai beban, tetapi sebagai kesempatan untuk melayani. Baginya, menjadi penyuluh agama bukan sekadar menjalankan kewajiban kantor, melainkan ikut ambil bagian dalam kehidupan rohani jemaat.

Bagi gereja lokal, kehadiran penyuluh agama bisa menjadi penguatan. Tidak semua gereja memiliki sumber daya pelayanan yang memadai. Ada gembala yang harus merangkap berbagai tugas, ada jemaat yang membutuhkan pendampingan lebih, dan ada kegiatan yang memerlukan dukungan tambahan.

Dua Jenis Kendala: Internal dan Eksternal

Dalam menjalankan tugas, Yafeta menghadapi sejumlah kendala. Ia menyebut ada dua macam: internal dan eksternal.

Secara internal, kendala yang dihadapi antara lain kondisi cuaca dan kesehatan fisik. “Kita mau beribadah, sama cuaca atau mungkin fisiknya kurang sehat,” ujarnya.

Penyuluh Agama Kristen Kemenag Kabupaten Malang Yafeta Lalenoh memberikan keterangan kepada awak media.
Penyuluh Agama Kristen Kemenag Kabupaten Malang Yafeta Lalenoh melayani ibadah rutin di GPDI Gumuk, Kamis (29/10/2026).

Selain itu, ada juga gereja yang belum sepenuhnya memahami tugas dan fungsi Kemenag. “Kadang kala juga ada gereja-gereja yang mungkin agak kurang nyaman karena mereka mungkin belum paham akan tugas dan fungsi Kementerian Agama itu, yaitu harus turun ke gereja-gereja di kecamatan tertentu,” jelas Yafeta.

Ia menyebut, ada anggapan bahwa kehadiran penyuluh agama bisa dianggap mencampuri pelayanan yang sudah dijalankan pendeta atau gembala. Padahal, tugas penyuluh agama adalah mendukung, bukan menggantikan.

“Yang mungkin kurang menyambut dengan baik, dipikirnya ‘loh kan sudah ada pendeta, sudah ada gembala, kok apa seperti masuk dalam pelayanan kami’. Jadi itu biasa,” katanya.

Sementara secara eksternal, penyuluh agama juga menghadapi persoalan yang lebih luas. Kadang kala ada gereja yang bermasalah, mengalami konflik, atau kesalahpahaman dengan masyarakat sekitar.

“Jadi kami ini juga memediasi, mendamaikan antara gereja dengan masyarakat atau pihak-pihak dari pemerintah atau dari agama yang lintas agama, yang mungkin belum memahami, atau mungkin juga dari gereja itu sendiri belum mengerti regulasi atau aturan-aturan. Misalnya dalam mengadakan ibadah atau mungkin dalam mendirikan rumah ibadah. Jadi kami juga fungsi kami seperti itu,” jelasnya.

Peran yang Tidak Selalu Terlihat

Peran mediasi dan pendampingan sering kali tidak terlihat oleh publik. Namun, di situlah penyuluh agama memainkan fungsi penting. Ketika terjadi kesalahpahaman antara gereja dan masyarakat, mereka hadir sebagai jembatan komunikasi. Ketika gereja belum memahami regulasi, mereka hadir sebagai penjelas.

Tugas semacam ini menuntut kemampuan komunikasi, kesabaran, dan pemahaman lintas sektor. Penyuluh agama tidak hanya berhadapan dengan jemaat, tetapi juga dengan masyarakat, pemerintah, dan pemeluk agama lain.

Harapan: Kehadiran Negara Dirasakan Umat

Yafeta berharap pelayanan yang dijalankan penyuluh agama dapat memberi manfaat bagi gereja-gereja. Ia ingin umat Kristen merasakan kehadiran negara melalui Kemenag.

“Harapan kami, kiranya gereja-gereja ini juga bisa diberkati dengan pelayanan kami, bisa merasakan kehadiran negara di agama Kristen. Kami punya agama sebagai ujung tombak. Kementerian Agama itu perwakilan pemerintah, kami ingin hadir melayani kebutuhan umat, baik itu kebutuhan rohani mereka, baik itu juga kebutuhan mereka akan advokasi, pendampingan, dan sebagainya. Itu harapan kami,” ujarnya.

Pernyataan itu menempatkan penyuluh agama sebagai ujung tombak kehadiran pemerintah di tengah umat. Bukan sebagai pengawas yang menakutkan, tetapi sebagai pelayan yang membantu.

Jemaat GPDI Gumuk mengikuti ibadah rutin pada Kamis sore.
Kegiatan rutin digelar setiap Kamis, dengan penyuluh agama melayani sebulan sekali di tempat tersebut.

Gereja Diminta Terbuka

Yafeta juga berharap agar gereja-gereja tidak menutup diri terhadap Kementerian Agama. Ia mengingatkan bahwa hubungan yang baik perlu dipupuk sejak awal, bukan hanya dibangun ketika ada masalah.

“Jangan menutup diri kepada Kementerian Agama. Karena kalau begitu, kadang kala terasa rendah diri, mungkin merasa tidak apa, yang besar dan sebagainya, atau mungkin merasa bahwa tidak ada gunanya dengan pemerintah. Jangan seperti itu, tapi selalu terbuka,” pesannya.

Ia mencontohkan hubungan baik yang telah terjalin dengan gembala di GPDI Gumuk. Menurutnya, koordinasi yang baik membuat pelayanan berjalan lancar dan aman.

“Kalau di GPDI Gumuk ini aman, makanya kami selalu berkoordinasi dengan bapak gembala. Itu fungsinya. Jadi kami juga berharap agar gereja-gereja ini jangan menutup diri,” katanya.

Ia juga mengingatkan bahwa ketika masalah datang, gereja akan membutuhkan dukungan pemerintah. Jika hubungan baik sudah dibangun sejak awal, dukungan itu bisa diberikan lebih cepat dan lebih baik.

“Ketika kita membutuhkan sesuatu atau ketika sudah terdesak ada masalah baru datang kepada pemerintah, tidak demikian. Marilah kita pupuk hubungan yang baik ini, sama seperti kami dengan bapak gembala di GPDI Gumuk,” pungkasnya.

Penutup: Pelayanan yang Menyentuh Hal Kecil

Di balik semua tugas formal, ada hal-hal kecil yang mungkin luput dari perhatian: sapaan kepada jemaat, doa yang dipanjatkan bersama, atau pujian yang dipimpin dengan sepenuh hati. Hal-hal kecil itulah yang membuat pelayanan terasa nyata.

Yafeta Lalenoh dan penyuluh agama lainnya di Kemenag Kabupaten Malang mungkin tidak selalu menjadi sorotan. Namun, kehadiran mereka di gereja-gereja lokal menunjukkan bahwa negara tidak hanya hadir dalam dokumen dan kebijakan, tetapi juga dalam ibadah Kamis sore yang sederhana.

( Stefanus )

Baca juga:

7 Tahun Gagal, Kini Bangkit: Kisah di Balik Lahirnya Wisata Puncak Srege Malang

Tonton juga :

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam Channel  Persindonesia.co.id Melalui Channel Yuotube, kami akan terus mengirimkan pesan rekomendasi berita-berita update yang menarik. Mulai Saluran Tiktok, IG, Snackvideo, LinkedIn, Facebook, Tumblr, Pinterest, Twiter hingga Youtube dan sebagainya terupdate dari Persindonesia.co.id.Untuk dapat menontonnya silakan klik dibawah ini :

https://whatsapp.com/channel/0029Vave4nw6GcGLiRrnuB3H

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!