Beranda » BRI Kepanjen Perkuat Sektor Produktif Lewat KUR, Pertanian dan Perdagangan Jadi Prioritas

BRI Kepanjen Perkuat Sektor Produktif Lewat KUR, Pertanian dan Perdagangan Jadi Prioritas

Oplus_131072

Kepanjen, Persindonesia.co.id — BRI Kepanjen terus memperkuat dukungannya terhadap pertumbuhan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) melalui penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) yang disertai dengan pendampingan kepada pelaku usaha. Hingga Oktober 2026, BRI Branch Office Kepanjen telah menyalurkan KUR lebih dari Rp496 miliar kepada tak kurang 10 ribu nasabah.

Dari total penyaluran tersebut, lebih dari 50 persen disalurkan ke sektor pertanian dan perdagangan, dua sektor yang memiliki peran penting dalam menggerakkan aktivitas ekonomi masyarakat.

Cerita Juwariyah: Dari Rp60 Juta ke Rp95 Juta

Di balik capaian tersebut terdapat beragam cerita pelaku UMKM yang terus berupaya mengembangkan usahanya. Salah satunya adalah Juwariyah, pemilik penggilingan padi dan perdagangan beras di Jenggolo, Kepanjen.

Wanita tersebut telah merintis usahanya sejak tahun 2000. Saat itu, Juwariyah membutuhkan tambahan modal untuk membeli mesin penggilingan dan mereparasi alat yang lama. Ia kemudian mendapatkan fasilitas KUR BRI sebesar Rp60 juta melalui BRI Unit Kepanjen.

Tambahan modal tersebut dimanfaatkan untuk mengembangkan usahanya. Seiring perjalanan usahanya, fasilitas pembiayaan yang diterima Juwariyah kemudian berkembang hingga mencapai Rp95 juta.

“Alhamdulillah, BRI banyak membantu usaha saya dan keluarga. Awalnya saya pinjam Rp60 juta dan sekarang sudah bisa sampai Rp95 juta. Usaha saya bisa ramai dan berkembang seperti ini secara tidak langsung juga karena bantuan BRI,” ujar Juwariyah.

Perjalanan Juwariyah bersama BRI tidak berhenti pada akses pembiayaan. Komunikasi dan pendampingan dari petugas BRI terus terjalin seiring berkembangnya usaha keluarga tersebut.

Mengapa Kisah Juwariyah Penting

Kisah Juwariyah adalah potret dari ribuan pelaku UMKM yang tumbuh bersama KUR. Ia bukan cerita tentang lonjakan besar dalam semalam, melainkan tentang pertumbuhan bertahap: dari kebutuhan modal untuk satu mesin penggilingan, menjadi usaha yang terus berkembang hingga plafon pembiayaan meningkat.

Peningkatan plafon dari Rp60 juta ke Rp95 juta menunjukkan adanya kepercayaan yang dibangun melalui rekam jejak. Dalam praktik perbankan, kenaikan plafon tidak diberikan begitu saja. Ia biasanya didasarkan pada penilaian terhadap kemampuan bayar, konsistensi usaha, dan kedisiplinan nasabah.

Bagi pelaku usaha mikro, kepercayaan semacam itu sangat berharga. Akses terhadap pembiayaan sering menjadi hambatan utama bagi UMKM untuk berkembang. Ketika akses itu terbuka dan disertai pendampingan, peluang tumbuh menjadi lebih besar.

Herwansyah: Bukan Hanya Penyaluran KUR

Branch Office Head BRI Kepanjen Herwansyah mengatakan, kisah Juwariyah menjadi salah satu gambaran bagaimana akses pembiayaan yang tepat dapat membantu pelaku UMKM dalam mengembangkan kapasitas usahanya.

“Kisah Ibu Juwariyah menunjukkan bahwa dukungan BRI tidak hanya sebatas penyaluran KUR. Kami juga mendorong pemberdayaan, pendampingan usaha, serta edukasi finansial agar pelaku UMKM memiliki kesempatan untuk mengembangkan usahanya secara berkelanjutan dan bertanggung jawab,” ujar Herwansyah.

Pernyataan itu menempatkan pendampingan sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari pembiayaan. KUR tanpa pendampingan berisiko menjadi sekadar pinjaman. Sebaliknya, KUR yang disertai edukasi finansial dan pendampingan usaha berpotensi mendorong perubahan yang lebih mendasar: kapasitas pelaku usaha meningkat, pengelolaan keuangan lebih rapi, dan keberlanjutan usaha lebih terjamin.

Bagi banyak UMKM, edukasi finansial bukan hal yang otomatis dikuasai. Pencatatan keuangan sederhana, pemisahan uang usaha dan rumah tangga, serta perencanaan arus kas sering kali belum menjadi kebiasaan. Di sinilah pendampingan berperan.

Sektor Pertanian dan Perdagangan Jadi Prioritas

Menurut Herwansyah, penyaluran KUR kepada lebih dari 10 ribu nasabah menjadi bagian dari komitmen BRI Kepanjen untuk terus membuka akses pembiayaan bagi sektor produktif dan pelaku usaha di wilayahnya.

Dominasi sektor pertanian dan perdagangan—lebih dari 50 persen dari total penyaluran—mencerminkan struktur ekonomi di wilayah kerja BRI Kepanjen. Kepanjen dan sekitarnya memiliki basis pertanian yang kuat, sekaligus aktivitas perdagangan yang hidup di pasar-pasar lokal.

Pembiayaan di dua sektor itu memiliki karakter berbeda. Pertanian menghadapi siklus musim, risiko cuaca, dan fluktuasi harga panen. Perdagangan menghadapi dinamika permintaan pasar dan persaingan. Keduanya membutuhkan pembiayaan yang sesuai dengan pola arus kas masing-masing.

“Kami berharap KUR dapat terus dimanfaatkan secara produktif untuk memperkuat dan mengembangkan usaha. Dengan pembiayaan yang disertai pendampingan, kami ingin semakin banyak pelaku UMKM seperti Ibu Juwariyah yang memiliki kesempatan untuk tumbuh dan naik kelas,” tambah Herwansyah.

KUR dan Tantangan UMKM di Daerah

UMKM di daerah menghadapi tantangan yang tidak selalu sama dengan UMKM di kota besar. Akses pasar lebih terbatas, informasi harga kadang tidak simetris, dan kapasitas produksi sering bergantung pada peralatan yang sudah tua.

Pembiayaan berperan untuk mengatasi sebagian hambatan itu. Modal tambahan bisa digunakan untuk membeli mesin baru, memperluas tempat usaha, atau menambah stok bahan baku. Namun, pembiayaan juga membawa tanggung jawab: angsuran harus dibayar, dan keputusan investasi harus dihitung dengan cermat.

Karena itu, kombinasi antara akses pembiayaan, pendampingan, dan edukasi finansial menjadi penting. Ketiganya saling melengkapi agar UMKM tidak hanya mendapat modal, tetapi juga mampu mengelolanya dengan baik.

Naik Kelas Bukan Sekadar Soal Plafon

Frasa “naik kelas” sering digunakan dalam diskusi tentang UMKM. Namun, maknanya lebih luas dari kenaikan plafon pembiayaan. Naik kelas bisa berarti peningkatan kapasitas produksi, perluasan pasar, perbaikan kualitas produk, atau pengelolaan keuangan yang lebih tertata.

Kisah Juwariyah menunjukkan dimensi itu. Dari penggilingan padi dan perdagangan beras, usahanya bertahan dan berkembang selama lebih dari dua dekade. Kenaikan plafon dari Rp60 juta menjadi Rp95 juta adalah indikator, bukan tujuan akhir.

Yang Perlu Ditunggu Publik

Publik perlu menunggu beberapa hal. Pertama, rincian sebaran KUR BRI Kepanjen per sektor dan per wilayah. Kedua, program pendampingan dan edukasi finansial yang dijalankan bersama penyaluran KUR. Ketiga, perkembangan usaha nasabah penerima KUR dalam jangka menengah. Keempat, tingkat kelancaran pembayaran angsuran sebagai indikator kesehatan portofolio. Kelima, keberlanjutan dukungan BRI bagi UMKM di wilayah Kepanjen.

Baca juga:

Ketika Pelajar Malang Raya Berlaga: Futsal, Kebersamaan, dan Harapan dari Kota Batu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!