Beranda » 7 Tahun Gagal, Kini Bangkit: Kisah di Balik Lahirnya Wisata Puncak Srege Malang

7 Tahun Gagal, Kini Bangkit: Kisah di Balik Lahirnya Wisata Puncak Srege Malang

Puluhan warga Dusun Bendorejo, Desa Sumberagung, Ngantang, bekerja bakti membuka jalur pendakian di lereng Puncak Srege. Mereka membawa cangkul dan sekop, dengan latar belakang perbukitan hijau dan Waduk Selorejo yang terlihat di kejauhan. Juli bersihkan gulma. Agustus buat jalur motor dan pelebaran puncak. September cetak beton cor dan survei rafting-paralayang. Oktober pelebaran jalur dan persiapan beton cor. Ini kronologi lengkap pembangunan Puncak Srege!

Ngantang, Persindonesia.co.id – Di bawah langit biru Ngantang yang sejuk, sebuah pemandangan tak biasa tersaji di lereng utara Kecamatan Ngantang, Kabupaten Malang. Puluhan warga Dusun Bendorejo, Desa Sumberagung, turun gunung setiap Minggu pagi. Namun, mereka bukan sedang mendaki. Mereka sedang membangun.

Sejak Juli 2026, warga bersama Divisi Usaha dan tim Lembaga Kemitraan Desa Pengelolaan Hutan (LKDPH) bahu-membahu membuka jalur pendakian menuju puncak Srege—sebuah bukit setinggi 960 mdpl yang menyuguhkan panorama 180 derajat Waduk Selorejo dan hamparan sawah hijau. Aktivitas ini bukan proyek pemerintah atau investor besar. Ini murni gerakan warga.

“Setiap Minggu, 25 orang turun gunung. Bukan untuk mendaki, tapi membangun!” begitu gambaran semangat yang terpancar dari wajah-wajah warga yang tak kenal lelah.

Juli 2026: Pembersihan Gulma di Sepanjang Jalur

Langkah pertama dimulai pada Juli 2026. Seluruh tim Divisi Usaha dan warga masyarakat Dusun Bendorejo bergotong royong membersihkan gulma di sepanjang jalur hingga puncak Srege. Kegiatan ini dilakukan secara bergilir setiap Minggu, dengan kehadiran sekitar 25 orang setiap sesinya.

“Kami ingin Puncak Srege ini bisa dinikmati oleh lebih banyak orang. Kalau jalannya bagus, wisatawan akan mudah datang,” ujar Karjita, salah satu tokoh masyarakat yang turut serta dalam kerja bakti.

Gulma yang menutupi jalur setapak perlahan dibersihkan. Bebatuan yang menghambat perjalanan disingkirkan. Warga datang dengan peralatan seadanya—cangkul, sekop, dan tenaga yang tak kenal lelah. Tidak ada yang membedakan status sosial. Semua bekerja dengan satu tujuan: membuka akses menuju puncak.

Agustus 2026: Jalur Kedua untuk Sepeda Motor dan Pelebaran Puncak

Memasuki Agustus 2026, pekerjaan semakin berat. Pada Minggu pertama dan kedua, warga mulai membuat jalur kedua khusus untuk sepeda motor hingga ke puncak Srege. Tidak hanya itu, lokasi puncak juga diperlebar untuk mengakomodasi lebih banyak pengunjung.

“Kami bergotong royong tanpa memikirkan imbalan. Yang penting Puncak Srege bisa maju dan dikenal,” ungkap Jodi, warga RT 21 yang turut membantu.

Pelebaran puncak ini penting. Dengan area yang lebih luas, pengunjung dapat menikmati pemandangan tanpa berdesakan. Area camping ground yang sebelumnya sempit kini memiliki ruang lebih untuk beberapa tenda. Kegiatan ini diikuti oleh seluruh anggota Divisi Usaha dan warga masyarakat secara bergilir, sekitar 25 orang setiap sesinya.

September 2026: Cetak Beton Cor dan Survei Rafting-Paralayang

September 2026 menjadi bulan yang sibuk. Warga mulai mencetak beton cor untuk persiapan jalur pendakian dari bawah hingga ke puncak Srege. Kegiatan ini diikuti oleh anggota Divisi Usaha dan warga masyarakat, sekitar 20 orang setiap sesinya.

Pada minggu ketiga September, sebuah langkah besar diambil. Tim Divisi Usaha Rafting dan Divisi Usaha Paralayang melakukan survei lapangan. Mereka didampingi oleh Tim Investor dan Konsultan untuk menyusun Rencana Anggaran Biaya (RAB) bagi pengembangan kedua wahana tersebut.

Ini bukan sekadar wacana. Survei ini menandakan bahwa Puncak Srege tidak akan berhenti sebagai destinasi pendakian biasa. Rafting dan paralayang sedang dipersiapkan untuk menjadikan kawasan ini sebagai pusat wisata petualangan di Jawa Timur.

Pada minggu keempat September, seluruh anggota Divisi dan warga masyarakat Dusun Bendorejo kembali turun. Kali ini, mereka melebarkan jalur pendakian dari bawah hingga Srege 1 untuk persiapan pemasangan beton cor.

Oktober 2026: Pelebaran Jalur dan Rencana Pemasangan Beton Cor

Memasuki Oktober 2026, pekerjaan terus berlanjut. Pada minggu pertama, warga melanjutkan pelebaran jalur dari bawah hingga Srege 1. Ini adalah tahap krusial sebelum beton cor dipasang.

Rencana besar sudah menanti di minggu kedua Oktober: pemasangan beton cor mulai dari jalur pintu masuk wisata sampai Srege 1. Jika tidak ada aral melintang, jalur pendakian Puncak Srege akan segera memiliki akses yang lebih nyaman dan aman bagi pengunjung.

Potensi Rafting dan Paralayang: Ngantang Menuju Panggung Nasional

Kecamatan Ngantang memang bukan wilayah asing bagi pengembangan wisata air dan udara. Bendungan Selorejo yang berada di kawasan ini telah lama menjadi destinasi unggulan. Perum Jasa Tirta I bahkan tengah menyiapkan Waduk Selorejo sebagai destinasi sport tourism internasional, dengan aktivitas seperti stand up paddle, kayak, dan rafting.

Untuk rafting, aliran Sungai Konto yang mengalir dari Coban Sewu hingga perbatasan Pujon–Ngantang telah dikenal cukup menantang, dengan pusaran arus yang deras dan kuat. Sementara untuk paralayang, rute dari Pujon dan Ngantang memang sudah lama menjadi jalur alternatif menuju Bukit Paralayang di Batu.

Jika rencana ini terealisasi, Puncak Srege tidak hanya akan menjadi destinasi pendakian keluarga. Ia berpotensi menjadi one-stop adventure destination yang menggabungkan trekking, rafting, dan paralayang dalam satu kawasan.

Dari LKDPH yang Gagal 7 Tahun, Kini Berbuah

Perjalanan Puncak Srege bukan tanpa liku. Lembaga Kemitraan Desa Pengelolaan Hutan (LKDPH) telah merintis wisata pendakian ini selama tujuh tahun, namun selalu gagal. Baru setelah mendapat dorongan dari AKP Karjita, S.Pd—seorang polisi yang juga menjabat sebagai Kasiwas Polres Batu dan mengemban tugas sebagai Polisi RW dan Humas di Wisata Puncak Srege di wilayah Kecamatan Ngantang—proyek ini kembali bangkit.

Tim yang digagas beranggotakan 12 orang, dengan Karjita sebagai ketua dan Sucipto, Andrik, Ruwoko, Edi Prawono, Subandi, Audi, Rumadji, Sutoyo, Kasiyan, J.S Paulus L., serta Dwi Isa Choiriyah sebagai anggota.

“Kami bertekad untuk mengembangkan potensi alam serta budaya di Desa Sumberagung sehingga destinasi wisata akan menjadi yang menarik dan edukatif,” ujar Karjita selaku Humas Wisata Puncak Srege.

Panorama 180 Derajat yang Menanti di Puncak

Bagi pengunjung yang menempuh jalur pendakian 45 menit hingga 1 jam, Puncak Srege menyajikan pemandangan yang tak akan terlupakan. Dari ketinggian 960 mdpl, terlihat Waduk Selorejo yang membentang luas, hamparan sawah hijau, dan perbukitan yang mengelilingi.

“Setiap langkah terbayar saat di puncak. Kita bisa lihat danau, perbukitan, dan sawah. Malam hari lampu perkampungan juga terlihat indah,” ujar Wahyu (24), salah satu pengunjung yang pernah berkemah di Puncak Srege.

Anisa (22), pengunjung lainnya, menambahkan bahwa jalur pendakian Puncak Srege ramah bagi pemula. “Meskipun track-nya menanjak terus, menurut saya masih aman untuk pendaki pemula. Udara di sini tidak terlalu dingin, sangat bersahabat,” ujarnya.

Harapan Warga: Ekonomi Bangkit, Alam Tetap Lestari

Di balik semua kerja keras, warga Dusun Bendorejo menyimpan harapan besar. Mereka ingin Puncak Srege menjadi sumber penghidupan baru—bukan hanya bagi warga desa, tetapi juga bagi generasi muda yang selama ini merantau ke kota.

Namun, mereka juga menyadari pentingnya menjaga kelestarian alam. Indri, mahasiswa UIN Maulana Malik Ibrahim Malang yang pernah mendaki ke Puncak Srege, menitipkan pesan sederhana namun mendalam: “Ayo datang ke sini, tempatnya bagus banget! Tapi tolong jaga kebersihan, ya. Soalnya masih ada sampah di sekitar sini”.

Pesan itu menjadi pengingat bahwa pembangunan wisata bukan hanya soal beton dan jalur. Ia juga soal tanggung jawab menjaga alam yang telah menjadi berkah bagi warga Ngantang selama ini.

Penutup

Dari pembersihan gulma di Juli 2026 hingga rencana pemasangan beton cor di Oktober 2026, Puncak Srege adalah bukti bahwa wisata desa bisa dibangun dari bawah. Tidak perlu menunggu investor besar. Cukup dengan gotong royong, konsistensi, dan cinta pada tanah kelahiran.

Jalur pendakian Puncak Srege yang telah dilebarkan, siap untuk pemasangan beton cor. Jalur tanah yang lebar terlihat membelah perbukitan hijau, dengan beberapa pekerja menyiapkan material di tepi jalur.
Progres pembangunan Wisata Pendakian Puncak Srege di Desa Sumberagung, Ngantang, Malang. Dari pembersihan gulma hingga survei rafting dan paralayang. Simak liputan lengkapnya

Kini, mata dunia mulai tertuju ke lereng utara Ngantang. Dan warga Dusun Bendorejo, dengan cangkul di tangan dan senyum di wajah, siap menyambut mereka.

“Kami bergotong royong tanpa memikirkan imbalan. Yang penting Puncak Srege bisa maju dan dikenal.”
— Jodi, Warga RT 21 Dusun Bendorejo

Baca juga;

Malang Superfight ke-27 Siap Digelar 13-15 November 2026, Usung Konsep Sportainment

Tonton ;

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam Channel  Persindonesia.co.id Melalui Channel Yuotube, kami akan terus mengirimkan pesan rekomendasi berita-berita update yang menarik. Mulai Saluran Tiktok, IG, Snackvideo, LinkedIn, Facebook, Tumblr, Pinterest, Twiter hingga Youtube dan sebagainya terupdate dari Persindonesia.co.id.Untuk dapat menontonnya silakan klik dibawah ini :

https://whatsapp.com/channel/0029Vave4nw6GcGLiRrnuB3H

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!