Malang, Persindonesia.co.id — PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk melalui Branch Office (BO) Malang Sutoyo terus memperkuat komitmennya dalam mendorong pertumbuhan dan pengembangan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Komitmen tersebut diwujudkan melalui penyelenggaraan UMKM Healthy Shopping Festival 2026 bertajuk “UMKM Kota Malang Naik Kelas” yang berlangsung di kawasan Jalan Ijen, Kota Malang, pada Minggu (25/10), bertepatan dengan kegiatan Car Free Day (CFD).
Kegiatan yang digelar melalui kolaborasi BRI bersama Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kota Malang ini diikuti oleh 13 UMKM binaan Dekranasda dan BRI. Para peserta berasal dari berbagai sektor usaha, meliputi kriya, wastra, dan fashion, yang menampilkan beragam produk unggulan hasil kreativitas pelaku UMKM lokal.
Melalui kegiatan ini, BRI menghadirkan ruang promosi sekaligus membuka peluang pemasaran yang lebih luas bagi pelaku UMKM. Pemanfaatan momentum Car Free Day di kawasan Jalan Ijen juga menjadi strategi untuk mendekatkan produk-produk lokal kepada masyarakat, sekaligus meningkatkan daya tarik dan daya saing UMKM Kota Malang.
Agung Waluyo: Dukungan Nyata bagi UMKM
Branch Office Head BRI Malang Sutoyo, Agung Waluyo, menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan salah satu bentuk nyata dukungan BRI terhadap pengembangan UMKM, khususnya dalam memperluas akses pasar dan memperkenalkan produk lokal kepada masyarakat.
“BRI berkomitmen untuk terus mendukung UMKM agar dapat berkembang dan naik kelas. Melalui UMKM Healthy Shopping Festival 2026, kami ingin memberikan kesempatan kepada para pelaku usaha untuk mempromosikan produk unggulannya secara lebih luas, sekaligus mempertemukan produk-produk UMKM dengan masyarakat sebagai calon konsumen,” ujar Agung Waluyo.
Pernyataan itu menempatkan festival bukan sekadar ajang jualan, tetapi sebagai jembatan antara pelaku usaha dan pasar. Bagi UMKM, akses pasar sering menjadi hambatan yang lebih sulit diatasi daripada persoalan modal. Produk bagus tidak otomatis dikenal jika tidak ada ruang untuk memperkenalkannya.
Kolaborasi BRI dan Dekranasda
Menurutnya, kolaborasi antara BRI dan Dekranasda Kota Malang menjadi langkah strategis dalam menciptakan ekosistem pemberdayaan UMKM yang semakin kuat. Sinergi tersebut diharapkan mampu memberikan manfaat nyata bagi pelaku usaha, mulai dari peningkatan eksposur produk hingga terbukanya peluang pengembangan bisnis.
“Harapan kami, kegiatan ini tidak hanya menjadi ajang promosi, tetapi juga dapat meningkatkan semangat para pelaku UMKM untuk terus berinovasi, menjaga kualitas produk, serta mengembangkan usahanya agar semakin kompetitif dan mampu menjangkau pasar yang lebih luas,” tambahnya.
Kolaborasi semacam ini menunjukkan bahwa pemberdayaan UMKM tidak bisa dilakukan satu pihak saja. Bank memiliki akses terhadap pembiayaan dan jaringan. Dekranasda memiliki kedekatan dengan pelaku kerajinan dan wastra. Pemerintah kota memiliki ruang publik dan kebijakan. Ketika ketiganya bekerja bersama, dampaknya bisa lebih luas.
13 UMKM dan Ragam Produk
Sebanyak 13 UMKM yang terlibat berasal dari sektor kriya, wastra, dan fashion. Ketiga sektor itu mencerminkan kekayaan budaya dan kreativitas lokal Kota Malang.
Kriya mencakup produk kerajinan tangan yang dibuat dengan keterampilan khusus. Wastra berkaitan dengan kain tradisional dan produk tekstil bernilai budaya. Sementara fashion mencakup pakaian dan aksesori yang mengikuti tren namun tetap bisa mengandung unsur lokal.
Keberagaman produk itu memberi warna tersendiri bagi festival. Pengunjung tidak hanya disuguhi satu jenis produk, tetapi beragam pilihan yang mencerminkan potensi UMKM Kota Malang.
Memanfaatkan Momentum Car Free Day
Pemilihan kawasan Jalan Ijen saat Car Free Day bukan tanpa alasan. CFD menarik banyak pengunjung dari berbagai kalangan: keluarga, anak muda, pegiat olahraga, hingga wisatawan lokal. Keramaian itu menjadi peluang bagi UMKM untuk memperkenalkan produk kepada audiens yang lebih luas.
Selain itu, suasana CFD yang santai dan terbuka membuat interaksi antara penjual dan pembeli lebih cair. Pengunjung bisa bertanya langsung tentang produk, melihat bahan, dan mengenal cerita di baliknya. Interaksi semacam ini sulit terjadi di ruang ritel formal.
Mengapa UMKM Perlu Naik Kelas
Frasa “naik kelas” dalam konteks UMKM mencakup banyak hal. Ia bisa berarti peningkatan kualitas produk, perluasan pasar, perbaikan kemasan, atau penguatan legalitas usaha.
Bagi UMKM di Kota Malang, naik kelas bukan sekadar menambah omzet. Ia juga tentang membangun identitas, menjaga konsistensi, dan mampu bersaing di pasar yang lebih luas.
Festival seperti ini memberi kesempatan bagi UMKM untuk menguji produknya di pasar nyata. Respons pengunjung menjadi umpan balik yang berharga: produk mana yang diminati, harga mana yang dianggap wajar, dan kemasan mana yang menarik perhatian.
Peran BRI dalam Pemberdayaan UMKM
BRI senantiasa berkomitmen untuk mendukung pemberdayaan UMKM sebagai salah satu penggerak utama perekonomian nasional. Melalui berbagai program pemberdayaan dan kolaborasi dengan para pemangku kepentingan, BRI terus mendorong UMKM agar semakin produktif, berdaya saing, dan berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi daerah maupun nasional.
Pemberdayaan UMKM tidak cukup dengan pembiayaan. Ia membutuhkan pendampingan, akses pasar, dan penguatan kapasitas. Festival seperti Healthy Shopping Festival menjadi salah satu bentuk dukungan nonfinansial yang bisa melengkapi pembiayaan.










