Beranda » Gelombang Pengunduran Diri Bertambah, Arema Voice Ikut Mundur dari Festival Mbois 11

Gelombang Pengunduran Diri Bertambah, Arema Voice Ikut Mundur dari Festival Mbois 11

Arema Voice memutuskan mundur dari Festival Mbois 11 buntut polemik mural "Malang The Glory Land". Vokalis Wahyoe menegaskan langkah ini diambil demi menjaga silaturahmi dengan Aremania yang telah dibangun sejak band berdiri. BREAKING! Arema Voice ikut mundur dari Festival Mbois 11 buntut polemik mural. Sikap ini diambil demi jaga silaturahmi dengan Aremania.

MALANG, Persindonesia.co.id – Gelombang pengunduran diri dari Festival Mbois 11 terus bertambah. Setelah sejumlah band lokal seperti Can A Rock, d’Kross, dan APA Rapper menyatakan mundur, giliran Arema Voice yang memastikan tidak akan tampil dalam gelaran yang berlangsung di Stadion Gajayana pada 21–23 Agustus 2026 tersebut .

Keputusan tersebut diambil setelah vokalis Wahyoe bersama seluruh personel melakukan rembuk internal dan mencermati dinamika yang berkembang di kalangan Aremania menyusul polemik mural “Malang The Glory Land”, yang sempat ramai di media sosial dan pemberitaan .

Bukan Penolakan, Melainkan Sikap Bijak

Wahyoe menegaskan, keputusan tersebut bukan bentuk penolakan terhadap Malang Mbois 11 maupun pihak penyelenggara. Langkah itu murni merupakan keputusan bersama yang dilandasi pertimbangan untuk menjaga hubungan, komunikasi, dan silaturahmi yang selama ini telah terjalin antara Arema Voice dan Aremania.

“Yo dasar intine, ayas ndelok kondisi Aremania masalah mural iku sampe dino iki terus memanas sam. La Arema Voice sendiri sejak berdiri sampai sekarang selalu membangun silaturahmi dengan Aremania. Kalau pun Arema Voice tetap main, rasanya sia-sia perjuangan yang selama ini kita bangun bersama,” ungkap Wahyoe pada Jumat (21/8/2026) malam.

Menurut Wahyoe, situasi terkait persoalan mural hingga kini masih menjadi perhatian khusus dan tensinya dinilai belum sepenuhnya mereda . Mural “Malang The Glory Land” yang digambar sejak 2016 oleh almarhum Sam Nyek, tokoh Aremania dari komunitas This Is Arema, ditimpa tulisan “Malang Menyala Bersama” oleh Malang Creative Fusion (MCF) sebagai bagian dari promosi Festival Mbois 11 .

Aremania Utas selaku organisasi suporter menyayangkan tindakan tersebut karena dilakukan tanpa koordinasi dengan pihak yang menginisiasi mural. “Kami sangat menyayangkan apa yang telah dilakukan oleh kawan-kawan panitia, karena tidak ada klarifikasi ataupun pemberitahuan kepada yang menginisiasi tulisan atau yang membuat tulisan di tembok hotel ini,” kata Humas Aremania Utas, Dedi Arisandi .

Menjaga Hubungan yang Telah Dibangun Bertahun-tahun

Wahyoe menyebut perjalanan Arema Voice sejak berdiri tidak terlepas dari dukungan dan kedekatan dengan Arek-arek Malang. Sejak lama, Arema Voice telah menjadi bagian dari identitas Aremania, bahkan Wahyoe sendiri telah menciptakan puluhan lagu untuk Arema FC dan Aremania . Konser virtual Arema Voice untuk memperingati 34 tahun Arema FC pun pernah disaksikan 35 ribu penonton .

“Apomane penyelenggara di Gajayana siap mbalekno maneh mural seperti sedia kala. Juga ono itikad baik mereka nang omahe almarhum Nyek sing gawe mural Malang The Glory Land. Ndisik sing gawe mural ate gambar maneh ditembok iku,” ujarnya.

Koordinator MCF, Dadik Wahyu, sebelumnya telah menyampaikan permintaan maaf dan berkomitmen untuk mengecat serta membuat kembali tulisan “Malang The Glory Land” seperti sebelumnya . Pada Kamis (20/8/2026), panitia Festival Mbois 11 bersama MCF terlihat menutup tulisan “Malang Menyala Bersama” dengan pengecatan ulang warna biru setelah berkoordinasi dengan Aremania Utas .

Ajak Jaga Kondusivitas dan Persaudaraan

Wahyoe menekankan, keputusan Arema Voice tidak dimaksudkan untuk memperlebar persoalan. Sebaliknya, ia berharap semua pihak dapat menahan diri dan memberikan ruang bagi proses penyelesaian agar berjalan secara baik, terbuka, dan bermartabat.

“Yang penting sekarang bagaimana masalah ini segera selesai. Kita berharap semua pihak punya itikad baik. Arema Voice tetap ingin menjaga silaturahmi dan persaudaraan dengan Aremania,” tegas Wahyoe.

Ia juga mengajak Aremania serta masyarakat Kota Malang untuk bersama-sama menjaga situasi tetap aman dan kondusif. Bagi Wahyoe, musik dan seni semestinya menjadi medium untuk mempererat persaudaraan serta menghadirkan energi positif bagi masyarakat .

Wakil Wali Kota Malang, Ali Muthohirin, sebelumnya juga berpesan agar insan kreatif di Kota Malang saling menghargai karya kreativitas yang ada dan tidak bersikap arogan. “Jangan segelintir sekelompok orang merasa paling kreatif terus kemudian tidak menghargai kreativitas yang lain. Ini tidak boleh ada arogansi seperti ini,” tegasnya .

Keputusan mundur dari Malang Mbois 11 tersebut menjadi sikap kolektif Arema Voice setelah melalui pembahasan bersama seluruh personel. Di tengah dinamika yang berkembang, mereka memilih menempatkan hubungan dengan Aremania dan kepentingan menjaga kondusivitas Kota Malang sebagai pertimbangan utama .

( Ton )

BACA JUGA ;

Unik dan Humanis! Satlantas Polres Malang Pasangkan Bendera Merah Putih ke Kendaraan Masyarakat

TONTON JUGA ;

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam Channel  Persindonesia.co.id Melalui Channel Yuotube, kami akan terus mengirimkan pesan rekomendasi berita-berita update yang menarik. Mulai Saluran Tiktok, IG, Snackvideo, LinkedIn, Facebook, Tumblr, Pinterest, Twiter hingga Youtube dan sebagainya terupdate dari Persindonesia.co.id.Untuk dapat menontonnya silakan klik dibawah ini :

https://whatsapp.com/channel/0029Vave4nw6GcGLiRrnuB3H

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!