KOTA BATU, 16 Maret 2026 , Persindonesia.co.id – Edukasi Sosial ,Bulan Ramadhan selalu menjadi momentum untuk meningkatkan kepedulian sosial dan mempererat kebersamaan. Di tengah hiruk-pikuk persiapan mudik dan aktivitas sehari-hari, sekelompok pemuda di Desa Pesanggrahan, Kota Batu, memilih cara unik untuk berbagi: memadukan tradisi kesenian Jaran Kepunk dengan aksi bagi-bagi takjil.

Adalah kelompok Seni Budaya Jaran Kepunk Banyu Kendi Mayang Seco yang pada Minggu sore (16/3/2026) menggelar aksi sosial di perempatan Jalan Hasanudin. Dengan diiringi tabuhan gendang, kenong, saron, dan terompet khas kuda lumping, mereka membagikan ratusan paket takjil kepada para pengendara yang melintas.
Aksi ini bukan sekadar bagi-bagi takjil biasa. Di baliknya, terkandung nilai-nilai edukatif yang patut diteladani: gotong royong, kepedulian terhadap sesama, dan kecintaan terhadap warisan budaya.

Filosofi “Bumbu Podo Moro”: Gotong Royong Ala Jaran Kepunk
Salah satu hal menarik dari kegiatan ini adalah sumber dananya yang berasal dari patungan seluruh anggota kelompok. Andi Prasetyo, pengurus harian yang akrab disapa Andi Botol, menyebutnya dengan istilah lokal “bumbu podo moro” – sebuah filosofi bahwa segala sesuatu akan terasa lebih bermakna jika dilakukan bersama-sama.
“Kami menghimpun dana secara swadaya dari anggota. Tidak banyak, tapi niat tulus untuk berbagi. Ini bentuk syukur kami karena masih diberi kesempatan berkumpul dan berkarya di bulan suci,” jelas Andi.

Nilai gotong royong ini merupakan warisan leluhur yang masih dijaga oleh kelompok tersebut. Di era individualisme dan digitalisasi, semangat kebersamaan seperti ini menjadi pelajaran berharga bagi generasi muda.
Berbagi Sambil Melestarikan Seni Tradisi
Kegiatan ini juga menjadi sarana untuk memperkenalkan kembali seni tradisi Jaran Kepunk kepada masyarakat luas. Dengan tampil di ruang publik, mereka secara tidak langsung mengedukasi bahwa kesenian tradisional tidak hanya bisa dinikmati di panggung formal, tetapi juga bisa hadir di tengah keramaian jalan raya.

“Kami ingin masyarakat tahu bahwa anak muda sekarang masih peduli dengan budaya. Jaran Kepunk itu bukan hanya tontonan, tapi juga tuntunan. Ada nilai-nilai kejujuran, keberanian, dan kebersamaan di dalamnya,” tambah Andi.
Atraksi barongan yang ditampilkan di sela-sela pembagian takjil berhasil menyedot perhatian pengendara. Banyak yang berhenti sejenak, mengabadikan momen, bahkan ikut berjoget. Ini membuktikan bahwa seni tradisi masih relevan dan mampu beradaptasi dengan situasi kekinian.
Sejarah Panjang Jaran Kepunk Banyu Kendi Mayang Seco
Kelompok ini memiliki sejarah panjang. Berdiri sejak tahun 2000, mereka sempat vakum akibat berbagai kendala. Namun pada tahun 2016, Andi Prasetyo dan kawan-kawan memutuskan untuk menghidupkannya kembali. Kini, mereka tidak hanya eksis di tingkat lokal, tetapi juga sering diundang tampil di berbagai even nasional, mulai dari Jakarta, Jogja, Surabaya, Kalimantan, hingga Solo.

“Kami sudah keliling Indonesia. Ini membuktikan bahwa kesenian tradisional kita punya daya tarik yang luar biasa. Asalkan dikemas dengan baik, generasi muda akan tertarik,” ujarnya.
Respons Positif Masyarakat
Masyarakat sekitar dan pengendara yang melintas menyambut positif kegiatan ini. Selain mendapatkan takjil gratis, mereka juga terhibur oleh atraksi seni yang enerjik. Seorang pemudik asal Surabaya, Rudi, mengaku terkesan.
“Saya kaget lihat ada kuda lumpung di pinggir jalan, ternyata sambil bagi takjil. Ini kreatif sekali, menggabungkan tradisi dan aksi sosial. Semoga terus berlanjut,” katanya.
Edukasi untuk Generasi Muda
Kegiatan ini mengandung pesan moral yang kuat bagi generasi muda: bahwa berbagi tidak harus menunggu kaya, dan melestarikan budaya tidak harus di atas panggung besar. Dengan kreativitas dan kebersamaan, hal-hal kecil bisa berdampak besar.
Andi Botol berharap aksi mereka bisa menginspirasi kelompok seni lain untuk ikut berkontribusi dalam kegiatan sosial. “Kami hanya ingin berbagi kebahagiaan. Kalau orang lain terinspirasi, itu bonus. Yang penting niat kami tulus untuk berbuat baik,” pungkasnya.

Di bulan yang penuh berkah ini, semangat Jaran Kepunk Banyu Kendi Mayang Seco menjadi oase di tengah hiruk-pikuk dunia maya. Mereka mengajak kita semua untuk tidak melupakan akar budaya dan selalu peduli terhadap sesama.
Hr/Bryn
Baca juga;
Semarak Ramadan di UI: Majelis Nyala Purnama #10 Hadirkan Tadarus Cinta, Meditasi, dan Orasi Budaya
Tonton juga;
Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam Channel Persindonesia.co.id Melalui Channel Yuotube, kami akan terus mengirimkan pesan rekomendasi berita-berita update yang menarik. Mulai Saluran Tiktok, IG, Snackvideo, LinkedIn, Facebook, Tumblr, Pinterest, Twiter hingga Youtube dan sebagainya terupdate dari Persindonesia.co.id.Untuk dapat menontonnya silakan klik dibawah ini :









