Kabupaten Malang, Persindonesia.co.id — Di sebuah tempat di Kecamatan Dau, Kabupaten Malang, ada tulisan yang sederhana tetapi menusuk: “Pusat Edukasi Pengembangan Pengelolaan Sampah Mandiri Berbasis Masyarakat”. Tulisan itu terpampang di TPST 3R Mulyoagung Bersatu, tempat yang Rabu (28/10/2026) menerima kunjungan peserta bimbingan teknis dari Direktorat Sanitasi Kementerian PU bersama rombongan Dinas Kabupaten Tegal sebanyak 26 orang.

Nugraha Wijayanto, tokoh pengelola KSM Mulyoagung Bersatu, menyambut mereka. Bukan dengan presentasi yang berjarak, tetapi dengan cerita tentang apa yang benar-benar dilakukan di tempat itu.

“Perkenalkan nama saya Nugraha Wijayanto, KSM TPS 3R Mulyoagung Bersatu yang ada di Desa Mulyoagung, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang. Hari ini ada kegiatan bimbingan teknis pelatihan pengolahan sampah dan juga aspek manajemennya,” ujarnya.

Kegiatan berlangsung Selasa hingga Jumat. Selama hari-hari itu, peserta diajak melihat langsung proses teknis operasional dan manajemen TPST 3R secara menyeluruh.
“Percuma Punya Sejuta Teori Tanpa Satu Aksi”
Ada satu kalimat yang Nugraha kutip dan terasa seperti pesan utama dari tempat ini: “Percuma kita punya sejuta teori tanpa satu aksi.”
Kalimat itu bukan sekadar retorika. Di TPST 3R Mulyoagung Bersatu, aksi memang menjadi fondasi. Tempat ini tidak hanya berbicara tentang pentingnya memilah sampah. Ia menjalankan prosesnya: mengumpulkan, memilah, mengolah, dan mengedukasi.

Nugraha berharap konsep sederhana dan mandiri yang diterapkan di tempatnya bisa menjadi inspirasi bagi peserta dari Kabupaten Tegal dan siapa pun yang datang untuk belajar. “Agar dapat direplikasi dan diimplementasikan di Kabupaten Tegal,” jelasnya.
Tetrapack, Plastic Bank, dan Bukti Bahwa Sampah Bisa Bernilai
Dalam beberapa periode terakhir, TPST 3R Mulyoagung Bersatu menerima kunjungan asosiasi Tetrapack dari Swedia. Rekan-rekan dari asosiasi itu, menurut Nugraha, tertarik pada proses pengumpulan sampah.

“Kita collecting di sini, kita proses, dan juga kita edukasi ke beberapa sekolah untuk melakukannya, sehingga sampah Tetrapack yang harusnya masuk ke residu tapi bisa punya nilai materi yang cukup, memberikan uang jajan bagi teman-teman di sekolah,” jelasnya.
Dari situ, ekonomi sirkular tidak lagi menjadi istilah abstrak. Ia menjadi uang jajan bagi anak sekolah. Ia menjadi nilai tambah bagi sampah yang biasanya dibuang.
Tempat ini juga disebut telah berkolaborasi dengan Plastic Bank. Kunjungan dihadiri beberapa manajer Plastic Bank dari Finlandia, Afrika, China, dan Mesir.

“Mereka sangat tertarik sekali dengan program edukasi yang kita terapkan ke beberapa sekolah. Kesan teman-teman sangat antusias, dan kami berharap ada kolaborasi lanjutan yang berdampak bagi kita semua,” ujarnya.
Mengapa Edukasi Dimulai dari Taman Kanak-Kanak
Di TPST 3R Mulyoagung Bersatu, edukasi tidak dimulai dari orang dewasa yang sudah punya kebiasaan. Ia dimulai dari anak-anak.
Nugraha menjelaskan, tempatnya memiliki program edukasi untuk anak TK, SD, SMP, SMA, bahkan perguruan tinggi. Untuk mahasiswa, ia mengajak mereka melakukan riset bersama agar punya output yang jelas.
Untuk anak TK, pendekatannya sangat sederhana. “Kalau anak TK, saya hanya mengajarkan untuk mengurangi timbulan sampah,” katanya. Ada tiga hal yang diajarkan: membawa tumbler, membawa kotak makan, dan mengumpulkan sampah plastik, botol, atau kotak susu sesuai jenisnya untuk ditukar di TPST.
Untuk anak SD, pendekatannya sedikit berbeda. Sampah yang mereka kumpulkan ditukar dalam bentuk nominal rupiah. “Untuk menjadi menarik buat teman-teman,” jelasnya.
Perbedaan pendekatan itu menunjukkan pemahaman bahwa anak-anak butuh cara belajar yang sesuai usia. Yang penting bukan sekadar tahu, tetapi mau melakukan.
Agenda kegiatan pun terus berjalan. Pada 13 Oktober 2026, TPST 3R Mulyoagung Bersatu menerima kunjungan outing class TK ABA 33 Griyashanta Malang. Pada 15 Oktober 2026, berlangsung kunjungan dari Manajemen Pusat Tetrapack Swedia dan Manager ASEAN Tetrapack. Sebelumnya, pada 9–10 September 2026, digelar bimtek untuk operator TPS 3R se-Kota Batu.
Belajar dari Taiwan
Nugraha mengutip Taiwan sebagai contoh. Menurutnya, Taiwan yang dahulu dikenal sebagai negara terkotor di Asia kini menjadi salah satu negara terbersih di Asia.
“Yang mereka lakukan itu melalui proses edukasi ke sekolah-sekolah. Jadi anak-anak SD, SMP setelah lulus sekolah, karena materi tentang edukasi pengolahan sampahnya jalan, akhirnya mereka bisa menerapkannya di rumah. Itu kami contoh,” ujarnya.
Kisah Taiwan itu relevan karena menunjukkan bahwa perubahan besar tidak terjadi dalam semalam. Ia dibangun melalui pendidikan yang konsisten, dari generasi ke generasi.

Penutup: Sampah sebagai Pelajaran tentang Harapan
TPST 3R Mulyoagung Bersatu mungkin bukan tempat yang indah untuk dikunjungi. Ia adalah tempat pengolahan sampah, dengan segala aroma dan kesibukannya. Namun di sanalah, setiap hari, sesuatu sedang diajarkan: bahwa sampah bukan akhir, bahwa anak-anak bisa menjadi agen perubahan, dan bahwa teori tanpa aksi tidak akan mengubah apa pun.
Peserta bimtek dari Kabupaten Tegal datang untuk belajar. Mereka akan membawa pulang catatan, foto, dan mungkin rencana. Namun yang paling berharga mungkin adalah keyakinan bahwa perubahan bisa dimulai dari tempat sederhana, dengan konsep sederhana, dan dengan orang-orang yang mau bertindak.
Baca juga :
BRI Malang Kawi Serahkan Beasiswa 300 Siswa SD dan SMP di Upacara Sumpah Pemuda di Balai Kota Malang
Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam Channel Persindonesia.co.id Melalui Channel Yuotube, kami akan terus mengirimkan pesan rekomendasi berita-berita update yang menarik. Mulai Saluran Tiktok, IG, Snackvideo, LinkedIn, Facebook, Tumblr, Pinterest, Twiter hingga Youtube dan sebagainya terupdate dari Persindonesia.co.id.Untuk dapat menontonnya silakan klik dibawah ini :










