Melacak Jejak Spiritual dan Kearifan Lokal di Balik Megahnya Regol Gebyok Gunung Butak

KOTA BATU,persindonesia.co.id – Sebuah karya arsitektur tradisional Jawa yang monumental, Regol Gebyok Jati Ukir, kini menjadi penanda baru di kawasan Paseban Agung, puncak Gunung Butak. Keberadaannya tidak hanya menambah nilai estetika, tetapi juga menyimpan narasi panjang tentang kepercayaan, nazar, dan kearifan lokal masyarakat Jawa.

Berdasarkan penelusuran PersIndonesia.co.id, pembangunan gerbang tersebut bermula dari ikrar spiritual seorang warga Desa Oro-Oro Ombo. Setelah menjalani lelono broto (perjalanan bertapa) di puncak gunung dengan doa yang khusyuk kepada Tuhan Yang Maha Esa, ia meraih keberhasilan dalam usaha. Sebagai wujud syukur, dibangunlah regol tersebut.

 

Narasi ini diperkuat oleh kesaksian Wasis (60), Sesepuh Dusun Tuyomerto, yang pada dekade 1980-an juga melakukan perjalanan serupa untuk ngangsu kaweruh (menimba ilmu). “Puncak Butak adalah tempat yang spesial. Selain sabana, terdapat tujuh mata air yang sangat jernih dan sebuah petilasan yang dianggap keramat,” ujar Wasis.

Ia dengan tegas membedakan antara lelaku spiritual dengan kemusyrikan. Tradisi membakar dupa, menurutnya, adalah medium untuk mencapai konsentrasi dan simbol dari pengharapan, selaras dengan filosofi Jawa Memayu Hayuning Bawana—sebuah upaya untuk merawat keindahan dunia.

Dari sisi geologis, Gunung Butak yang merupakan stratovolcano tidak aktif, kini tidak hanya menjadi destinasi pendakian populer, tetapi juga menjadi bukti fisik dari dialektika antara alam, manusia, dan nilai-nilai spiritual yang hidup dalam masyarakat.

(Byn)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!