PUJON, Persindonesia.com – Kalimat itu kini terasa seperti firasat. “Aku paling nggak sampai puncak, Mas. Nanti turun sebelum maghrib sudah sampai,” ucap Firman Widya Pratana (27) kepada seorang pemuda ojek di basecamp Kawinajang, pagi itu, Kamis,14/02/2026.
Niatnya sederhana: menikmati perjalanan tanpa target, lalu pulang untuk acara keluarga sebelum senja. Takdir berkata lain.

Di Pos 1 Gunung Kawi Najang, sekitar pukul tiga sore, Firman memutuskan berhenti. Hujan lebat yang tak kunjung reda sejak siang membuatnya kedinginan. Ia membuat secangkir kopi hangat. Dengan sikap gentleman, ia menyuruh rekan perempuannya dalam rombongan untuk turun lebih dulu. “Sambil ngopi-ngopi di Pos 1,” kenang Agus Suyono, pengelola basecamp, kepada Hari awak media PersIndonesia.co.id.
Itulah potret terakhir Firman dalam keadaan sadar. Beberapa saat kemudian, ia ditemukan tak bergerak oleh rekan-rekannya. Dunia seolah diam. Di ketinggian itu, di tengah kabut dan derasnya hujan, denyut nadi seorang pemuda sehat terhenti tanpa tanda peringatan yang jelas.

Antara Normalitas dan Kejutan:
“Registrasi nggak ada apa-apa. Kondisi normal. Semua normal,” tegas Agus, seolah masih tak percaya. Tidak ada keluhan, tidak ada gejala. Ini bukan cerita tentang kesalahan teknis pendakian, bukan pula kecelakaan akibat medan terjal.
Ini adalah cerita tentang bagaimana tubuh manusia, di bawah tekanan fisik dinginnya gunung dan kelelahan, bisa tiba-tiba menyerah.

“Dokter menduga serangan jantung. Angin duduk. Itu bisa menimpa siapa saja,” lanjut Agus, suaranya rendah.
Evakuasi yang heroik dalam hujan pun hanya berhasil membawa turun jasadnya. Di basecamp, keluarga yang sudah dihubungi, dengan berat hati menerima kepastian yang paling pahit. “Kita sudah bicara baik-baik, silaturahmi mereka sudah menerima,” ucap Agus, mencoba menggambarkan kesabaran keluarga.
Refleksi di Balik Duka:
Kematian Firman meninggalkan pelajaran dalam bagi komunitas pendaki. Bahwa di balik semua persiapan logistik dan fisik, ada faktor “silent killer” yang sering diabaikan: kesehatan jantung dan respons tubuh terhadap kondisi ekstrem. Gunung tak hanya menguji nyali, tapi juga kesiapan biologis setiap pendakinya.

Malam itu, Basecamp Kawinajang tak hanya diterpa hujan, tapi juga kesedihan yang dalam. Untuk Firman, perjalanan memang berakhir sebelum puncak, dan sebelum maghrib tiba—sesuai rencananya, tapi dengan cara yang tak pernah terbayangkan.
Hingga berita ini diturunkan belum ditahui, apakah ada ansuransi jiwa atau santunan pada keluarga korban dari pihak terkait, mengingat ia melewati loket pendakian tersebut.
Baca juga;
Berdiri di Atas Kaki Sendiri, Prabowo Dedikasikan Swasembada Pangan 2025 untuk Para Petani
Hr/Bryn
Bersambung….
Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam Channel Persindonesia.co.id Melalui Channel Yuotube, kami akan terus mengirimkan pesan rekomendasi berita-berita update yang menarik. Mulai Saluran Tiktok, IG, Snackvideo, LinkedIn, Facebook, Tumblr, Pinterest, Twiter hingga Youtube dan sebagainya terupdate dari Persindonesia.co.id.Untuk dapat menontonnya silakan klik dibawah ini :









