Persindonesia.co.id, Senayan, Jakarta – Senin (15/6/2026) menjadi hari yang panas bagi kawasan parlemen. Ratusan mahasiswa dari Aliansi Cipayung Menggugat menggelar aksi unjuk rasa di depan Gedung DPR RI. Mereka membawa lima tuntutan utama yang ditujukan kepada pemerintah melalui DPR RI sebagai lembaga legislatif.
Namun aksi yang berlangsung dari pukul 13.00 WIB hingga 17.30 WIB itu diwarnai insiden penangkapan seorang demonstran bernama Dzakwan Falih (24) , yang mengaku mengalami kekerasan fisik dari aparat kepolisian.
Lima Tuntutan Utama Cipayung Menggugat
Dari atas mobil komando, orator menyampaikan kritik keras terhadap kondisi negara saat ini. Mereka mendesak Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka mundur dari jabatannya.
Berikut lima tuntutan yang disuarakan:
1. Prabowo-Gibran Mundur
Massa mendesak Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka mengundurkan diri sebagai bentuk pertanggungjawaban atas berbagai kebijakan yang dinilai tidak berpihak kepada rakyat.
2. Pendidikan Gratis dan Berkualitas
Mahasiswa menuntut pendidikan gratis dan berkualitas bagi seluruh rakyat Indonesia guna menjamin hak setiap warga negara memperoleh akses pendidikan tanpa hambatan ekonomi. “Pendidikan itu sangat penting untuk bagaimana kemudian rakyat Indonesia lebih sejahtera lagi ke depan,” kata sang orator.
3. Turunkan Harga BBM
Massa menuntut pemerintah segera menurunkan harga BBM untuk mengurangi beban ekonomi masyarakat dan mencegah kenaikan harga kebutuhan pokok.
4. Evaluasi Total MBG
Mendesak dilakukannya evaluasi total terhadap tata kelola Program Makan Bergizi Gratis (MBG) agar pelaksanaannya berjalan transparan, tepat sasaran, dan tidak menimbulkan persoalan baru. “200 triliun lebih dana pendidikan dialokasikan kepada MBG. Itu sangat naif,” jelas orator.
5. Hentikan Sementara MBG
Menuntut penghentian sementara Program MBG hingga dilakukan evaluasi menyeluruh dan perbaikan sistem pelaksanaan.
Insiden Penangkapan Dzakwan Falih
Kericuhan bermula ketika demonstran berencana melakukan aksi bakar ban di depan gedung parlemen. Aparat kepolisian mengambil ban tersebut dan membawanya pergi, memicu reaksi dari massa.
Sekitar pukul 15.19 WIB, Dzakwan Falih mencoba meletakkan ban sepeda motor di depan mobil komando untuk dibakar sebagai simbol protes. Menurut keterangannya, upaya tersebut memicu respons aparat. Seorang polisi berpakaian preman disebut merebut ban itu dan melemparkannya ke semak-semak. Tak terima, mahasiswa mencoba merebut kembali ban mereka hingga memicu aksi saling dorong dan blokade jalan.
Di tengah situasi yang chaos, Dzakwan mendadak dikepung, dikunci, dan ditarik paksa menembus gerbang besi DPR RI. Di dalam ruang tertutup itulah, ia mengaku mendapatkan intimidasi fisik.
Dzakwan Mengaku Dipukul dan Trauma
Setelah dibebaskan pada pukul 15.41 WIB, Dzakwan menceritakan pengalaman pahitnya. Ia mengaku dipukul di beberapa bagian tubuh.
“Saya ditangkap saat hendak membakar ban sebagai bentuk protes. Saya dipukul di bagian perut dan bahu,” ungkap Dzakwan.
Ia mengaku menerima pesan dari aparat agar demonstrasi tidak dilakukan dengan tindakan yang dianggap anarkis. “Kalau mau demo, jangan anarkis,” ucapnya.
Sekembalinya ke tengah massa, Dzakwan tampak masih lemas. Ia mengaku mengalami trauma setelah peristiwa tersebut. “Saya masih lemas dan trauma,” tuturnya.
Reaksi Para Pemimpin Organisasi
Jansen Henry Kurniawan, Ketua DPC GMNI Jakarta Timur, menyatakan penyesalannya atas tindakan represif yang dialami kader organisasinya. Ia juga menyayangkan tidak adanya anggota DPR yang menemui massa aksi.
“Kami sangat menyesalkan dugaan tindakan represif terhadap kader kami,” katanya.
Ia menegaskan aksi ini bukanlah yang terakhir. “Kami pastikan kami akan datang ke sini dan kami akan datang dengan kekuatan yang lebih besar,” tegasnya.
Emanuel Odo, Ketua Presidium PMKRI Jakarta Timur, menyoroti kondisi di Papua. “Menegaskan bahwa Papua bukan tanah kosong. Papua harus menjadi tempat di mana masyarakat Papua menikmati hasil alamnya sendiri,” tegasnya.
Abdul Latief, Ketua LMND Jakarta Timur, menyampaikan bahwa ini adalah gerakan moral untuk kepentingan rakyat. “Di tengah Indonesia yang sedang tidak baik-baik saja, saatnya mahasiswa bersatu dan turun ke jalan untuk menyuarakan suara kebenaran,” ujarnya.
Ultimatum 3×24 Jam untuk DPR RI
Para demonstran yang telah menunggu selama berjam-jam tanpa ada perwakilan DPR yang menemui mereka, akhirnya memberikan ultimatum 3×24 jam. Mereka menuntut anggota dewan untuk merespons tuntutan yang telah disampaikan.
Tiga perwakilan demonstran membacakan langsung tuntutan tersebut di hadapan peserta aksi. Setelah pernyataan disampaikan, koordinator lapangan mengatur pembubaran massa secara bertahap hingga seluruh peserta meninggalkan lokasi.
Belum Ada Tanggapan Resmi dari DPR dan Polisi
Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari pihak DPR RI maupun kepolisian terkait insiden penangkapan dan dugaan kekerasan terhadap Dzakwan Falih.
Meski sempat terjadi ketegangan antara massa dan aparat, situasi berangsur kondusif setelah kedua pihak menahan diri. Arus lalu lintas di Jalan Gatot Subroto kembali normal dan ramai lancar.
Persindonesia.co.id akan terus mengawal perkembangan kasus ini. Ketika parlemen tutup telinga, jalanan berbicara. Dan ketika jalanan berbicara, negara harus mendengar.
Js/Hr )









