Lampung, 10 Juni 2026, Persindonesia.co.id – Momen Hangat di RSUD, ada yang berbeda dari suasana Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) KH. Muhammad Thohir Krui, Kabupaten Pesisir Barat, Lampung, pada Rabu siang itu. Bukan hanya karena status rumah sakit yang baru saja ditingkatkan dari tipe D menjadi tipe C, tetapi karena kehadiran seorang tamu istimewa yang disambut dengan gegap gempita oleh seluruh elemen di rumah sakit tersebut.
Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, tiba di lokasi sekitar pukul 10.00 WIB. Sambutan meriah sudah menanti sejak pintu masuk. Para tenaga medis berjajar rapi, ada yang masih memakai seragam dokter dan perawat, ada pula yang melepas jas lab sebentar untuk menyambut sang kepala negara. Pasien-pasien yang sedang menunggu antrean pun ikut menengok, berusaha melihat dari balik jendela atau pintu ruang tunggu.
Namun kunjungan Presiden bukan sekadar seremonial peresmian. Lebih dari itu, ini adalah momen di mana seorang pemimpin bangsa turun langsung ke lapangan, mengecek fasilitas kesehatan, berdialog dengan para pahlawan medis, dan yang paling mengesankan: menyapa langsung warga biasa yang sedang berjuang dengan sakitnya.
Selepas tiba, Presiden Prabowo tidak langsung menuju panggung utama. Ia memilih untuk berkeliling terlebih dahulu. Dengan didampingi Bupati Pesisir Barat, jajaran Dinkes Provinsi Lampung, serta direktur rumah sakit, Prabowo meninjau sejumlah fasilitas RSUD KH. Muhammad Thohir Krui. Ia masuk ke ruang rawat inap, ruang UGD, ruang radiologi, dan laboratorium. Ia memastikan sendiri bahwa alat-alat medis berfungsi, ruangan bersih dan layak, serta pelayanan kepada pasien berjalan optimal.
“Saya ingin melihat langsung. Jangan sampai peresmian hanya seremonial, tapi esok harinya tidak ada perubahan berarti. Pelayanan kesehatan harus betul-betul dirasakan masyarakat,” ujar Prabowo kepada para dokter yang mendampingi.
Di ruang rawat inap, Presiden menyempatkan diri berbincang dengan seorang nenek yang sedang terbaring lemah. Dengan suara lembut, ia bertanya, “Sudah berapa lama dirawat, Nek? Pelayanannya bagaimana?”
Nenek itu, yang mengaku baru dua hari dirawat karena sesak napas, hanya bisa tersenyum getir. “Alhamdulillah, Pak. Dokter dan perawatnya baik-baik,” jawabnya dengan suara lirih.
Prabowo mengangguk, lalu menggenggam tangan sang nenek. “Semoga lekas sembuh, Nek. Doa bapak untuk ibu,” ucapnya. Sang nenek menangis haru. Warga lain yang melihat adegan itu ikut terenyuh.
Namun momen yang paling mengharukan sekaligus paling hangat terjadi di ruang poliklinik anak. Di sanalah seorang ibu muda sedang menggendong bayinya yang masih sangat kecil—mungkin baru berusia beberapa bulan. Wajah sang ibu semula tegang, karena bayinya sedang rewel. Namun ketika ia melihat sosok tinggi besar dengan kemeja putih mendekat, ia terkejut.
Presiden Prabowo tersenyum. “Siapa namanya?” tanyanya sambil menatap wajah mungil sang bayi.
Ibu itu, dengan suara gemetar karena gugup sekaligus bahagia, menjawab, “Keysha, Pak.”
“Keysha… nama yang bagus,” ujar Prabowo. Ia kemudian mengulurkan tangan, menyentuh lembut dahi bayi itu. Dengan penuh khidmat, Presiden berdoa dalam hati. Ia tidak mengucapkan doa dengan suara keras, tetapi gerak bibirnya terlihat. Matanya terpejam sesaat. Suasana di sekitar ruangan menjadi sunyi. Warga yang melihat ikut menunduk, ikut berdoa untuk kesembuhan sang bayi.
“Semoga Keysha sehat selalu, menjadi anak yang saleh, dan berbakti kepada orang tua,” ucap Prabowo setelah membuka mata.
Sang ibu tidak kuasa menahan air mata. Ia mencium tangan Presiden, sesuatu yang sempat membuat pengawal terkejut, namun Prabowo membiarkannya dengan senyum hangat. “Terima kasih, Pak Presiden. Terima kasih,” ujar ibu itu berulang kali.
Momen tersebut dengan cepat menjadi viral di kalangan warga yang hadir. Banyak yang mengabadikan melalui ponsel masing-masing. Dalam hitungan menit, foto-foto dan video pendek beredar di grup WhatsApp dan media sosial warga Pesisir Barat. Judulnya sederhana: “Pak Prabowo doakan bayi Keysha.”
Seorang perawat yang menyaksikan langsung dari kejauhan, Suster Ani (34), mengaku terharu. “Saya sudah 10 tahun bekerja di sini. Baru kali ini ada presiden yang benar-benar menyentuh pasien secara langsung. Biasanya hanya foto-foto dari jauh, lalu pergi. Pak Prabowo berbeda,” ujarnya dengan mata berkaca-kaca.
Setelah berkeliling meninjau fasilitas, Presiden Prabowo menuju panggung utama untuk menyampaikan sambutan sekaligus meresmikan peningkatan status RSUD KH. Muhammad Thohir Krui dari tipe D menjadi tipe C. Kenaikan status ini bukan sekadar perubahan angka. Ini berarti rumah sakit kini memiliki kapasitas pelayanan yang lebih luas, tenaga medis yang lebih lengkap, serta peralatan yang lebih modern.
Dalam sambutannya, Prabowo menekankan pentingnya layanan kesehatan yang merata di seluruh Indonesia, tidak hanya di kota-kota besar. “Kesehatan adalah hak dasar setiap warga negara. Tidak boleh ada warga yang mati hanya karena tidak punya akses ke rumah sakit. Tidak boleh ada ibu yang melahirkan di pinggir jalan karena rumah sakit terlalu jauh. Itu komitmen saya, komitmen pemerintah,” tegasnya.
Ia juga mengapresiasi kerja keras para tenaga medis yang bertugas di daerah terpencil. “Saya tahu, bekerja di daerah tidak mudah. Fasilitas mungkin terbatas, akses mungkin sulit. Tapi kalian tetap bertahan. Kalian pahlawan sesungguhnya. Terima kasih,” ucapnya sambil menatap barisan dokter dan perawat yang berdiri di sisi panggung.
Para tenaga medis yang hadir memberikan tepuk tangan meriah. Beberapa di antaranya tidak bisa menahan haru. Mereka merasa dihargai, sesuatu yang jarang mereka dapatkan.
Setelah acara peresmian usai, Presiden tidak langsung masuk ke dalam mobil. Ia justru berjalan ke arah gerbang, menyapa warga yang sudah menunggu sejak pagi di luar area rumah sakit. Puluhan, bahkan mungkin ratusan warga, sudah berdesakan di pagar pembatas.
“Mari, mari, kita salaman,” seru Prabowo sambil mengulurkan tangan ke arah warga.
Satu per satu warga maju. Ada yang hanya ingin bersalaman, ada yang ingin foto selfie, ada pula yang sekadar ingin melihat dari dekat. Seorang pemuda dengan kaus oblong nekat meminta swafoto. Prabowo mengiyakan. “Cepat, ya, nanti ditegur pengawal,” candanya sambil merangkul pemuda itu.
Seorang nenek tua yang datang dengan tongkat juga ikut mengantre. Prabowo yang melihat dari kejauhan langsung memerintahkan ajudannya untuk membantu nenek itu maju. “Nek, hati-hati. Cukup salaman, tidak usah foto,” katanya lembut.
Warga bersorak. Ada yang berteriak “Pak Prabowo”, ada yang berteriak “Merdeka”, ada pula yang hanya bertepuk tangan tanpa suara. Wajah-wajah mereka yang semula tegang karena menunggu berjam-jam, berubah menjadi kebahagiaan setelah berjumpa langsung dengan presiden.
“Saya kira Pak Prabowo hanya akan melambaikan tangan dari mobil, ternyata beliau turun. Beliau benar-benar dekat dengan rakyat,” ujar Pak Sartono (55), seorang warga yang mengaku sudah datang sejak pukul 07.00 pagi hanya untuk melihat presiden.
Setelah sekitar 15 menit menyapa warga, Prabowo akhirnya masuk ke dalam mobil kepresidenan. Lambaian tangan terakhir sebelum mobil melaju disambut dengan teriakan dan lambaian balasan dari warga.
Mobil melaju perlahan. Kerumunan mulai bubar. Namun senyum di wajah warga masih terus tersisa. Mereka pulang dengan cerita yang akan mereka bagikan kepada keluarga dan tetangga: bahwa mereka pernah bertemu presiden, bahwa presiden pernah menyapa, bahkan pernah mendoakan anak mereka.
Bagi ibu Keysha yang namanya kini disebut-sebut di berbagai grup media sosial, hari itu adalah hari yang tidak akan pernah ia lupakan. “Bayi saya didoakan langsung oleh Presiden. Saya tidak bisa mengungkapkan rasa syukur saya,” ujarnya kepada wartawan sebelum pulang.
RSUD KH. Muhammad Thohir Krui kini resmi menjadi rumah sakit tipe C. Namun yang lebih penting dari perubahan status itu adalah pesan yang dibawa oleh kunjungan Presiden: bahwa negara hadir, bahwa pemimpin peduli, dan bahwa layanan kesehatan bukan sekadar proyek, melainkan amanat konstitusi untuk menyejahterakan rakyat.
Dan di sudut ruang poliklinik anak, bayi Keysha tertidur pulas dalam gendongan ibunya, tanpa tahu bahwa hari itu ia menjadi bagian dari sejarah kecil yang hangat di ujung selatan Pulau Sumatera.
Stef/Bryn
