Tim Basarnas Malang Raya Evakuasi Pencari Ikan Hanyut di Sungai Brantas Blitar, Ditemukan 16 Km dari Titik Awal

Tim Basarnas Malang Raya menggunakan perahu karet saat mengevakuasi korban pencari ikan di Sungai Brantas Blitar Isnaini, pencari ikan asal Kesamben, ditemukan tewas setelah tiga hari hanyut di Sungai Brantas.

BLITAR, Persindonesia.co.id — Tim Basarnas Malang Raya, Duka menyelimuti keluarga besar warga Kesamben, Blitar, setelah pencarian selama tiga hari terhadap Isnaini, seorang pencari ikan yang dilaporkan hanyut di Sungai Brantas, berakhir dengan kesedihan. Tim Basarnas Malang Raya berhasil menemukan korban pada hari ketiga pencarian, Rabu (20/5/2026), di lokasi yang cukup jauh dari titik awal kejadian.

Komandan Tim Basarnas Malang Raya, Imam Nahrowi, mengungkapkan bahwa Isnaini ditemukan di bawah Jembatan Turi. Lokasi penemuan ini berjarak sekitar 16,9 kilometer dari titik awal dugaan korban hanyut.

“Korban atas nama Isnaini, warga Kesamben, ditemukan pada hari ketiga pencarian di bawah Jembatan Turi dengan jarak sekitar 16,9 kilometer dari titik awal dugaan hanyut,” ujar Imam Nahrowi dalam keterangannya.

Isnaini, pencari ikan asal Blitar, ditemukan tewas setelah hanyut di Sungai Brantas sejauh 16,9 km. Korban masih memegang karung berisi ikan saat dievakuasi tim Basarnas.

Kondisi Korban Saat Ditemukan

Saat ditemukan oleh tim SAR, Isnaini berada di tepi Sungai Brantas dalam kondisi tengkurap. Pemandangan yang menyayat hati adalah korban ternyata masih menggenggam erat karung berisi ikan yang dibawanya sejak awal dia hanyut.

Karung berisi hasil tangkapan ikan itu seolah menjadi saksi bisu perjuangan korban sebelum akhirnya tak mampu melawan derasnya arus Sungai Brantas. Korban diduga hanyut setelah terseret arus saat sedang mencari ikan di sungai tersebut.

“Korban masih memegang karung berisi ikan yang dari awal hanyut ia bawa. Saat ditemukan di Jembatan Turi, sekitar 16 kilometer dari lokasi hanyut, akhirnya jenazah ditemukan,” ungkap Imam Nahrowi.

Kendala Arus Deras dan Kedalaman Sungai

Proses evakuasi korban tidaklah mudah. Tim Basarnas Malang Raya yang diterjunkan ke lokasi harus berhadapan dengan kondisi alam yang ekstrem. Arus Sungai Brantas yang cukup deras menjadi tantangan utama bagi para penyelamat.

Selain arus yang kuat, kedalaman sungai juga menjadi kendala tersendiri. Tim SAR harus ekstra hati-hati saat melakukan pencarian dan evakuasi menggunakan perahu karet melalui jalur air.

“Kami mengalami kendala karena kedalaman dan arus sungai yang cukup kuat saat proses evakuasi,” akui Imam Nahrowi.

Meski demikian, tim SAR tetap berupaya maksimal untuk menemukan dan mengevakuasi korban. Dengan perlengkapan yang memadai dan koordinasi yang baik, korban akhirnya berhasil dievakuasi dari tepi sungai.

Tragedi Sungai Brantas: Pencari Ikan Hanyut 16 Km, Ditemukan Tewas Masih Pegang Karung Ikan

Pencarian Selama Tiga Hari

Pencarian terhadap Isnaini dimulai sejak korban dinyatakan hanyut beberapa hari sebelumnya. Tim Basarnas Malang Raya diterjunkan ke lokasi untuk melakukan pencarian menyusuri aliran Sungai Brantas.

Hari pertama dan kedua pencarian belum membuahkan hasil. Tim SAR menyisir berbagai titik di sepanjang aliran sungai, namun korban belum juga ditemukan. Memasuki hari ketiga, upaya pencarian terus dilanjutkan.

Tim SAR melakukan pencarian melalui jalur air menggunakan perahu karet. Mereka menyusuri sungai dari titik awal dugaan korban hanyut hingga ke hilir. Upaya ini akhirnya membuahkan hasil ketika korban ditemukan di bawah Jembatan Turi.

Evakuasi ke RSUD Srengat

Setelah berhasil dievakuasi dari lokasi penemuan, jenazah Isnaini segera dibawa ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Srengat. Pihak rumah sakit akan melakukan penanganan lebih lanjut serta proses identifikasi sebelum jenazah diserahkan kepada pihak keluarga.

“Selanjutnya korban dibawa ke RSUD Srengat untuk penanganan dan identifikasi lebih lanjut sebelum diserahkan kepada pihak keluarga,” jelas Imam Nahrowi.

Proses identifikasi diperlukan untuk memastikan secara medis identitas korban, meskipun secara fisik sudah dikenali oleh tim SAR dan warga sekitar.

Duka Keluarga dan Warga Kesamben

Kabar duka ini tentu menjadi pukulan berat bagi keluarga korban. Isnaini pergi mencari ikan seperti biasa, namun ia tak pernah kembali ke rumah. Kini ia pulang dalam keadaan yang sangat berbeda.

Warga Kesamben, tempat tinggal korban, juga turut berduka atas kepergian Isnaini. Mereka ikut membantu proses pencarian sebelum tim SAR resmi diterjunkan. Solidaritas warga terlihat dari upaya bersama mencari korban di hari-hari pertama kejadian.

Kepada keluarga korban, tim Basarnas Malang Raya menyampaikan belasungkawa yang mendalam. Mereka berharap keluarga diberikan ketabahan dan kekuatan dalam menghadapi musibah ini.

Basarnas imbau pencari ikan waspadai arus deras dan gunakan alat keselamatan.

Pesan Keselamatan bagi Pencari Ikan

Kasus hanyutnya Isnaini menjadi peringatan bagi para pencari ikan, terutama yang sering beraktivitas di Sungai Brantas. Arus sungai yang deras dan kedalaman yang ekstrem merupakan ancaman serius yang tidak boleh diabaikan.

Para pencari ikan diimbau untuk selalu memperhatikan kondisi cuaca dan arus sungai sebelum memulai aktivitas. Penggunaan alat keselamatan seperti pelampung sangat dianjurkan, terutama bagi mereka yang mencari ikan sendirian di sungai berarus deras.

Basarnas juga mengingatkan masyarakat untuk segera melapor jika ada anggota keluarga atau warga yang hilang atau diduga hanyut. Semakin cepat laporan diterima, semakin cepat pula proses pencarian dapat dimulai, sehingga peluang penyelamatan lebih besar.

Koordinasi Basarnas dengan Pihak Terkait

Dalam proses pencarian kali ini, Basarnas Malang Raya berkoordinasi dengan berbagai pihak, termasuk pemerintah setempat, kepolisian, serta warga sekitar. Koordinasi yang baik menjadi salah satu faktor kunci dalam penemuan korban.

Tim SAR tidak hanya mengandalkan perahu karet, tetapi juga melakukan penyisiran di sepanjang bantaran sungai. Metode pencarian kombinasi antara jalur air dan darat terbukti efektif meskipun medan cukup berat.

Pemerintah daerah setempat juga memberikan dukungan penuh, termasuk dalam penyediaan akses menuju lokasi-lokasi yang sulit dijangkau.

Penutup: Perjalanan Panjang Pencarian yang Berakhir Duka

Tiga hari pencarian yang melelahkan akhirnya berakhir setelah jenazah Isnaini ditemukan. Namun, perjalanan panjang itu berakhir dengan duka yang mendalam bagi keluarga dan kerabat.

Karung berisi ikan yang masih digenggam erat korban menjadi pengingat bahwa Isnaini pergi melakukan pekerjaan halal untuk mencari nafkah. Namun takdir berkata lain.

Keluarga kini menanti kepulangan Isnaini untuk dimakamkan secara layak. Rasa duka menyelimuti, namun ada kelegaan kecil karena korban akhirnya ditemukan dan bisa mendapatkan penghormatan terakhir yang layak.

Tim Basarnas Malang Raya mengakhiri operasi pencarian setelah jenazah diserahkan kepada pihak keluarga. Mereka kembali ke pos masing-masing, membawa serta pengalaman dan pelajaran dari evakuasi kali ini.

( Stef )

Baca juga;

Maha Patih Law Office Malang Hadirkan Praktisi Hukum Finance, Bekali Mahasiswa Magang dengan Ilmu Litigasi Terapan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!
Exit mobile version