BANDUNG BARAT, Persindonesia.co.id – Sebuah rekaman udara yang viral di media sosial memperlihatkan dengan jelas dahsyatnya dampak bencana longsor yang melanda Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, Sabtu (24/1/2026). Gambaran dari atas tersebut menyuguhkan perspektif mengerikan tentang besarnya volume tanah yang bergerak dan meruntuhkan permukiman warga di bawahnya, yang telah menelan puluhan korban jiwa.
Dalam rekaman yang diunggah akun Instagram @elanzaelanii dan dibagikan ulang oleh @hey.cimahi pada Selasa (27/1/2026), terlihat material tanah dan batu besar menggerus dan membelah lereng perbukitan yang curam. Aliran material itu meninggalkan “jejak” atau jalur longsoran yang memanjang tajam dari puncak hingga ke lembah, mengubah landscape hijau menjadi hamparan tanah cokelat yang terbuka.
“Lereng perbukitan terbelah, membentuk jalur longsoran yang memanjang dari bagian atas hingga ke lembah. Material tanah dan batu menggerus lereng yang cukup curam,” jelas narasi dalam unggahan viral tersebut, yang telah mendapat lebih dari 41.1 ribu likes.
Gambaran Serius & Peringatan untuk Semua
Kondisi lereng yang kini “terbuka” dan gundul itu memperlihatkan kerusakan ekosistem yang parah. Kawasan yang sebelumnya tertutup vegetasi hijau, kini hanya menyisakan bekas aliran material longsor. Ahli geologi yang dihubungi JatimWarta menyatakan, rekaman semacam ini adalah bukti visual kuat tentang energi dan skala bencana tanah longsor, khususnya di topografi curam.
Bencana di Cisarua ini bukan hanya sekadar berita duka dari Jawa Barat. Ia harus menjadi peringatan serius (warning) bagi seluruh daerah, termasuk Jawa Timur, yang memiliki karakteristik geografis serupa, yaitu banyaknya kawasan perbukitan dan lereng yang padat permukiman. Kewaspadaan dan mitigasi bencana harus ditingkatkan.
Respons Warganet: Soroti Faktor Lingkungan
Di kolom komentar, warganet berduka sekaligus mengkritisi. Akun @rikarianard menyebut, “Longsor karena pergerakan tanah.” Sementara @nenengrosidah menegaskan, “Yang jelas, pegunungan jangan dialihfungsikan, pohon besar harus ditanam kembali.” Komentar-komentar ini menyoroti akar masalah yang sering terjadi: degradasi lingkungan di kawasan hulu dan lereng.
Pelajaran untuk Jatim: Tingkatkan Mitigasi!
Peristiwa ini menguatkan pentingnya:
1. Pemetaan dan patroli intensif di zona rawan longsor.
2. Penegakan hukum terhadap alih fungsi lahan di lereng kritis.
3. Edukasi masyarakat tentang tanda-tanda awal longsor.
4. Penanaman pohon berakar kuat dan pembangunan struktur penahan tanah.
BPBD Jawa Timur diharapkan dapat mengambil pembelajaran dari musibah di Cisarua ini untuk memperkuat sistem peringatan dini dan sosialisasi di daerah rawan longsor di Provinsi Jawa Timur.









