Misteri Kematian Beruntun di Pujon: Jenazah Tak Dikenal Dikerubungi Lalat Hijau di Coban Manan, Usai Tragedi “Angin Duduk” di Gunung Kawi Najang

Dari Kaki Gunung Kawi Hingga Tebing Coban Manan: Mengurai Misteri Kematian Beruntun di Tengah Amukan Cuaca Ekstrem Pujon LAPORAN: Jenazah pria tak dikenal ditemukan di Alas Coban Manan, Pujon Kidul, Malang (18/01/2026). Kondisi dikerubungi lalat hijau, diduga terjatuh dari tebing. Ini terjadi 3 hari setelah insiden pendaki tewas di Gunung Kawi Najang.

PUJON, JAWA TIMUR, Persindonesia.co.id – Kawasan wisata alam Pujon, Malang, kembali berduka. Dalam rentang waktu hanya tiga hari, dua insiden kematian terpisah mengguncang kawasan yang terkenal dengan hawa sejuk dan pesona alamnya. Jika pada Jumat (16/1/2026) seorang pendaki dilaporkan meninggal dunia diduga akibat angin duduk (serangan jantung) saat mendaki Gunung Kawi Najang via Loket Pujon, pada Minggu (18/1/2026) kembali ditemukan jenazah seorang pria tanpa identitas dalam kondisi mengenaskan di Alas Coban Manan, Desa Pujon Kidul. Temuan terbaru ini dilaporkan semakin memilukan. Kondisi jenazah pria tersebut telah dikerubungi lalat hijau, menandakan telah beberapa waktu lamanya sebelum ditemukan. Lokasi temuan yang disebutkan “sama area gunung Kawi” menambah kompleksitas peta kejadian di wilayah pegunungan yang tengah dilanda cuaca ekstrem ini.

Tragedi di Coban Manan: Jatuh Tebing dan Isyarat Lalat Hijau

Berdasarkan informasi resmi dari Pemerintah Desa Pujon Kidul yang dikonfirmasi Kepala Desa Muhammad Ismail Mahfudz Said kepada persindonesia.co.id, jenazah pria itu ditemukan oleh seorang pengunjung yang berkemah. Laporan tersebut kemudian ditindaklanjuti oleh perangkat desa.

“Benar, telah ditemukan jenazah tanpa identitas. Kami telah berkoordinasi dengan Babinkamtibmas dan Babinsa,” ujar Kepala Desa.

Seorang sumber di tingkat kasun menyampaikan observasi yang lebih detail. “Diduga kuat korban terjatuh dari tebing setinggi sekitar 20 meter. Kondisi jenazah sudah dikerubungi lalat hijau,” tuturnya. Kondisi lalat hijau (blowflies) ini merupakan indikator forensik penting yang biasanya menunjukkan bahwa kematian telah terjadi setidaknya 24-48 jam sebelumnya, bahkan bisa lebih lama tergantung kondisi lingkungan.

Ciri-Ciri Korban yang Unik: Harapan untuk Identifikasi

Jenazah ditemukan dalam keadaan yang tidak lazim: telanjang dada, hanya mengenakan celana dalam warna merah dan celana panjang coklat. Pihak desa mengeluarkan deskripsi lengkap untuk memudahkan identifikasi:

1. Jenis Kelamin: Laki-laki.

2. Tubuh: Perawakan kurus.

3. Kulit: Sawo matang.

4. Usia: Sekitar 40 tahun.

5. Rambut: Hitam tebal.

6. Ciri wajah: Berjenggot tipis.

7. Ciri sangat khas: Dua gigi seri depan agak maju (tonggos/merongos).

8. Barang temuan: Sebuah masker kusam di saku.

Deskripsi terperinci ini, terutama ciri gigi dan pakaian dalam merah, diharapkan dapat membantu keluarga yang kehilangan mengenali. Pemerintah Desa Pujon Kidul secara resmi meminta bantuan publik. “Bagi yang merasa kehilangan keluarga dengan ciri-ciri tersebut, atau siapa pun yang memiliki informasi, harap segera menghubungi Kantor Pemdes Pujon Kidul,” demikian imbauan resmi mereka.

Kembarannya dengan Tragedi Gunung Kawi Najang: Cuaca sebagai Faktor Utama?

Insiden ini terjadi hanya berselang dua hari setelah laporan seorang pendaki tewas di Gunung Kawi Najang, yang diakses via Loket Pujon. Korban diduga mengalami angin duduk atau kondisi medis mendadak di jalur pendakian.

Meski dugaan penyebab berbeda (kecelakaan jatuh vs. kondisi medis), kedua insiden menyoroti faktor yang sama: cuaca ekstrem yang melanda dataran tinggi Malang akhir-akhir ini. Kabut tebal, hujan lebat diselingi angin kencang, dilaporkan sering menyulitkan perjalanan dan meningkatkan risiko hipotermia, kecelakaan, atau serangan jantung bagi yang tidak siap secara fisik.

“Kondisi cuaca yang cepat berubah di ketinggian bisa sangat berbahaya, terutama bagi pendaki pemula atau mereka yang memiliki riwayat kesehatan tersembunyi. Kabut juga bisa membuat seseorang tersesat atau kehilangan keseimbangan di tebing,” kata Agus Salim, seorang pemandu gunung senior di Malang, saat dihubungi terpisah.

Kemungkinan ODGJ dan Ironi di Tengah Tren Wisata Alam

Melihat kondisi korban yang ditemukan tanpa baju dan minim barang bawaan, salah satu petugas di lapangan menyebutkan kemungkinan korban adalah Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) yang mengembara. Namun, hal ini masih sebatas dugaan awal yang memerlukan investigasi lebih lanjut dari pihak kepolisian.

Ironisnya, insiden ini terjadi di tengah tingginya minat masyarakat terhadap wisata alam dan hiking pasca-pandemi. Sayangnya, tidak semua pengunjung memiliki pemahaman dan kesiapan yang memadai terhadap risiko yang ada, terutama ketika dihadapkan dengan cuaca yang tidak bersahabat.

Merangkai Benang Merah: Kisah Serupa dari Banyuwangi hingga Bali

Tragedi di Pujon ini bukanlah yang pertama. Beberapa waktu lalu, media juga memberitakan seorang pemuda di Banyuwangi yang ditemukan tewas di area perkebunan setelah dilaporkan hilang saat bekerja. Korban ditemukan dalam kondisi yang juga memprihatinkan setelah beberapa hari dicari. Di tempat lain, seperti yang diberitakan Kompas.com pekan lalu, seorang wanita dilaporkan hilang saat trekking di area perbukitan Bali dan baru ditemukan tiga hari kemudian dalam kondisi lemas.

Rentetan kejadian ini menunjukkan pola yang mirip: keterlambatan pelaporan, medan yang sulit, dan cuaca yang tidak menentu sering kali menjadi faktor penyulit dalam proses pencarian dan pertolongan.

Upaya Identifikasi dan Peringatan Keselamatan

Hingga saat ini, upaya identifikasi dan evakuasi masih dikoordinir oleh Pemerintah Desa bersama aparat. Tim dari Polres Batu telah dihubungi dan diperkirakan segera melakukan olah TKP untuk penyelidikan lebih mendalam guna mengungkap sebab kematian dan identitas korban.

Berdasarkan dua insiden beruntun ini, komunitas pecinta alam setempat mengingatkan pentingnya:

1. Cek Cuaca: Selalu pantau prakiraan cuaca ekstrem dari BMKG sebelum beraktivitas di alam terbuka.

2. Kesiapan Fisik & Medis: Kenali kemampuan diri, bawa obat pribadi, dan jangan memaksakan diri jika kondisi tidak fit.

3. Informasi Perjalanan: Selalu beri tahu keluarga atau teman tentang tujuan dan perkiraan waktu pulang.

4. Peralatan Adekuat: Bawa perlengkapan menghadapi hujan dan dingin, termasuk jaket tahan air, senter, dan powerbank.

5. Jangan Sendirian: Hindari menjelajahi jalur alam, terutama yang curam dan bertebing, sendirian.

Duka kembali menyelimuti Pujon. Dua insiden dalam waktu singkat ini harus menjadi pengingat bagi semua tentang betapa tidak terduganya alam dan pentingnya kesiapan matang sebelum menyatu dengan keindahannya.

persindonesia.co.id akan terus memantau perkembangan identifikasi jenazah pria tak dikenal ini dan investigasi Polres Batu. Pembaruan beri

ta akan disampaikan segera setelah informasi resmi diperoleh.

Wic/Bryn

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!