Paguyuban Lingkar Kawi, Dan Pengelola Gunung Jatim Kolaborasi Wujudkan Standar Operasional Pendakian Terpadu

Kota Batu, Persindonesia.co.id – Paguyuban Lingkar Kawi dan Pengelola Gunung Jatim, dalam upaya meningkatkan keselamatan, ketertiban, dan kelestarian lingkungan kawasan pendakian, pengelola dari berbagai gunung di Jawa Timur menginisiasi pertemuan kolaboratif. Pertemuan yang dipelopori oleh pengurus tiket pendakian Gunung Bokong, Panderman, dan Bithak, Singeh Akbar, ini bertujuan menyusun Standar Operasional Prosedur (SOP) terpadu yang mengadopsi model kesuksesan pengelolaan di Jawa Tengah.

Panderman
Pengurus Tiket Pendakian Gunung Buthak, Bokong, Pandermansaat ditemui Awak media

Pertemuan yang melibatkan perwakilan dari Paguyuban Lingkar Kawi serta pengelola basecamp dari berbagai gunung seperti Lawu,Wilis, Tahura, dan kawasan Ijen ini membahas langkah konkret untuk menyamakan persepsi. Fokus utamanya adalah menciptakan SOP bersama yang dapat diterapkan di seluruh “sabuk” Pegunungan Kawi sebagai pionir.

Singeh Akbar, yang dalam satu setengah bulan terakhir aktif mempelajari model pengelolaan di Jawa Tengah, menyatakan bahwa langkah ini penting untuk menciptakan tata kelola pendakian yang lebih baik. “Kita ingin mengadaptasi hal positif dari pengelolaan Gunung Sumbing dan Sindoro yang rutin mengadakan pertemuan tiga bulanan untuk evaluasi SOP. Ke depan, kita targetkan pertemuan seluruh basecamp di Jawa Timur setiap enam bulan sekali,” jelas Singeh Akbar dalam keterangannya.

Poin-poin yang dibahas tidak hanya terbatas pada SOP pendakian, tetapi juga penanganan pelanggaran oleh pendaki mulai dari tingkat ringan hingga berat, manajemen sampah, serta protokol tanggap darurat seperti dalam kasus pendaki hilang atau kebakaran hutan (karhutla). Dengan koordinasi yang solid, penutupan sementara kawasan untuk pemulihan lingkungan atau pencegahan karhutla dapat dilakukan secara serentak dan terkoordinasi.

Kolaborasi ini juga diharapkan menjadi wadah sharing inovasi dan pengembangan kapasitas bagi para pengelola, seperti pelatihan bagi satuan pengamanan (satpa) dan program sertifikasi. Harapan besarnya, model pengelolaan terpadu yang sukses diuji coba di Pegunungan Kawi ini dapat menjadi percontohan bagi kawasan pendakian gunung lainnya di seluruh Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!