KOTA BATU, persindonesia.co.id – Aroma kemenyan mengepul, mantra doa-doa suci dilantunkan dengan khidmat oleh sesepuh dusun. Ratusan warga Dusun Sabrang Bendo, Batu, berkumpul dalam sebuah selamatan sumber mata air, Jumat (5/9/2025). Ritual yang merupakan warisan leluhur ini bukan sekadar tradisi, tetapi menjadi simbol perlawanan dan keprihatinan atas menyusutnya sumber kehidupan mereka.
Hadir dalam acara tersebut tokoh organisasi dan tokoh masyarakat, menunjukkan tingginya antusiasme dan dukungan terhadap acara tersebut. Hadir dalam kesempatan itu antara lain penggiat budaya dari, TNI, PPBN (Perkumpulan Pemerhati Budaya Nusantara), Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Giripurno, HIPA (Himpunan Pengguna Air) Dusun Sabrang Bendo, serta perwakilan dari Alab-Alab dan IHL (Indonesia Hijau Lestari). Turut hadir pula penggiat lingkungan, Komisariat Bani Salim PSHT Cabang Kota Batu dan ratusan warga setempat serta beberapa awak media.

Syukur yang Berbalut Luka
Di atas kertas, selamatan ini adalah wujud syukur kepada Gusti Kang Murbeng Dumadi. Namun, di lapangan, ia adalah sebuah pernyataan politik warga. Sumber air yang mereka puja-puja tersebut nyaris mati. Debitnya yang dulu mencapai dua dim, kini hanya tinggal tetesan kecil yang menyisakan tanda tanya besar: apa yang terjadi?
Warga menduga pembangunan Boarding School di lokasi tersebut sebagai nungkin sebab, sumber air yang dulu mengalir deras bagi kehidupan dan pertanian, kini terkurung dalam tembok kompleks sekolah. “Saya lahir dan besar di sini, saya tahu persis kondisinya,” ujar seorang warga, suaranya bergetar menyimpan amarah yang tertahan.
Mediasi yang Mandek dan Janji yang Belum ada kelajutan
Pembicaraan ini sejatinya bukan hal baru, dahulu mediasi yang melibatkan Pemerintah Kota (Walikota), Camat Bumiaji, pengurus HIPAM, perangkat desa, dan pihak sekolah pernah dilakukan. Hasilnya, sebuah komitmen dari pihak sekolah untuk memberikan kompensasi berupa pembuatan sumur bor.
Namun, bagi warga, sumur bor bukanlah solusi. Mereka tidak butuh kompensasi, mereka butuh keadilan ekologis. “Kami ingin sumber air kembali besar, itu yang utama,” tegas mereka. Janji bor air justru dinilai sebagai pengalihan isu dari penyelesaian yang tidak menyentuh akar masalah: pengembalian fungsi alam.
Suara LSM dan Solidaritas Lingkungan
Kehadiran sejumlah LSM lingkungan seperti Alap-Alap dan Indonesia Hijau Lestari (IHL) memberi warna lain pada acara ini. Ghaib Samporno dari Alap-Alap menyoroti aspek legalitas. “Perlu dikaji dan dipertanyakan izin-izin legal pendirian sekolah tersebut. Air tidak boleh dikuasai oleh pihak tertentu,” tegasnya, menyentuh persoalan fundamental tentang siapa yang berhak atas sumber daya alam.

Solidaritas juga datang dari Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) Desa Pesanggrahan yang menyumbangkan puluhan bibit pohon beringin dan lo. Rudiyanto dari LMDH menekankan pentingnya pohon sebagai penyangga ekosistem sumber air. “Bukan hanya diselamati, faktor penyangga harus diperhatikan. Akarnya menyimpan air,” jelasnya.
Budaya vs Modernitas: Bukan Soal Syirik
Robiyan, tokoh masyarakat setempat, membela tradisi selamatan dari tuduhan kemusyrikan. “Ini wujud syukur dan sedekah kepada alam. Wong niatnya sedekah kepada alam !” tandasnya. Pernyataannya menggaris bawahi bahwa persoalan ini telah menyentuh ranah budaya dan keyakinan, di mana warga merasa cara hidup dan penghormatan mereka pada alam terancam oleh gelombang modernitas yang tidak ramah lingkungan.

Di balik beningnya harapan yang tersisa dari sumber air itu, yang tertinggal justru adalah air mata warga yang khawatir kehilangan masa depan. Ritual selamatan menjadi pengingat piluh: bahwa di era modern, perjuangan untuk setetes air bersih bisa berarti perjuangan untuk bertahan hidup.
Hr/Bryn









