KOTA BATU, persindonesia.co.id – Desa Tulungrejo, Kota Batu kembali menggelar ritual “Jamas Pusaka” usai rembuk adat, Rabu (16/7/2025) malam.
Yang unik, benda yang disucikan bukan hanya keris atau tombak, melainkan juga sapu ijuk aren (sodo), wadah anyaman (gerang), dompet hingga selendang batik– tergantung apa yang dianggap pusaka oleh warga.
Aditya Fajar, juru bicara sekaligus pelaksana ritual, menjelaskan filosofi mendalam di balik tradisi ini:
“Dalam budaya Jawa, penyucian mencakup tiga aspek: penyucian diri (ruwatan sukerta), wilayah (lemah sedaya), dan benda pusaka. Malam ini adalah wujud terima kasih kita kepada bumi sambil merawat warisan leluhur.”
Antusiasme Warga & Generasi Muda, tahun ini, 50 -60 an pusaka diserahkan warga untuk dijamas – bahkan pernah mencapai 75 benda. Yang membanggakan, menurut Aditya, semakin banyak pemuda terlibat aktif. “Dulu pusaka identik dengan orang tua. Kini anak muda mulai belajar mewarisi tradisi,” ujarnya penuh harap.
Generasi Muda Kota Batu Bangkit Lestarikan Warisan Leluhur, 50 Benda Pusaka Dirawat dalam Ritual Tahunan

Pusaka: Makna Lebih Luas, Aditya menegaskan konsep pusaka di Tulungrejo sangat inklusif: “Apapun yang bermakna khusus bagi pemiliknya bisa jadi pusaka. Sapu ijuk pun disucikan jika difungsikan sebagai pusaka turun-temurun.”
Ritual Tahunan yang Sinergi, kegiatan ini telah berjalan rutin setiap tahun, bersamaan dengan malam tirakatan dan selamatan desa. “Alhamdulillah, kami konsisten melestarikan ini,” tambah Aditya.
Harapan ke Depan, Aditya berpesan: “Semoga tradisi ini menginspirasi desa lain di Batu untuk menggali kearifan lokalnya. Jamas pusaka bukan sekadar ritual, tapi cara kita merawat identitas budaya.” Ujarnya, hal ini baginya merupakan kebangkitan generasi muda dan fleksibilitas tradisi, pada filosofi Jawa yang relevan dengan kehidupan modern.
Yn/Bryan









