Kirab Tumpeng Agung Nusantara ke-14: Modern Boleh, Tapi Jangan Lupakan Akar Budaya! 

Blitar, 27 Juni 2025, Persindonesia.co.id – “Kamu boleh modern, tetapi jangan kehilangan jati dirimu!” Pesan tegas ini menggema dalam Kirab Tumpeng Agung Nusantara Gotong-Royong ke-14 yang digelar oleh Lembaga Pelindung dan Pelestari Budaya Nusantara (LP2BN) di Candi Penataran, Blitar, Jawa Timur.

Acara yang berlangsung khidmat pada Jumat (27/6/2025) ini tak hanya menyatukan ribuan peserta dari berbagai penjuru Nusantara, tetapi juga menjadi simbol perlawanan terhadap erosi budaya di era globalisasi .

Raja, Sultan, dan Forkompimda Hadir dalam Gelaran Budaya Megah, Event nasional ini dihadiri oleh Bupati Blitar, jajaran Forkompimda, pegiat budaya, tokoh spiritual, hingga 48 raja dan sultan dari seluruh Nusantara. Candi Penataran—yang pernah menjadi pusat spiritual Majapahit—kembali hidup dengan gegap gempita tarian tradisional, prosesi kirab, dan tumpeng raksasa sebagai simbol syukur .

Ki Aris Sugito, Ketua Umum LP2BN, menegaskan:
“Candi Penataran adalah warisan leluhur yang harus kita jaga. Dari sini, kita bangkitkan kesadaran bahwa modernisasi bukan alasan untuk melupakan adat!”.

Dari Balekambang ke Penataran: Napak Tilas Spiritual, Prosesi kirab dimulai dari Situs Balekambang—bekas pusat pendidikan era Majapahit—menuju Candi Penataran sejauh 2 km. Peserta mengenakan busana adat sambil mengarak tumpeng, menciptakan panorama kebhinekaan yang memukau .

Ki Kusnadi, Bapak Budaya yang hadir, berpesan:
“Generasi muda boleh melek teknologi, tapi jangan sampai terputus dari akar budaya. Ini warisan yang harus kita teruskan!”.

Hujan dan Mendung: Restu Alam untuk Pelestarian Budaya, acara sempat diguyur hujan deras, tetapi justru dianggap sebagai pertanda restu leluhur. *”Mendung tersingkap saat prosesi selesai—itu tanda tumitisé para luhur (roh leluhur) menyertai kita,” ujar Ki Aris .

LP2BN dan Misi Global: Nusantara sebagai Pusat Peradaban Dunia, LP2BN tak hanya aktif di Jawa Timur, tetapi juga memperluas gerakan ke Jawa Barat dan DKI Jakarta. Tujuannya jelas: memastikan setiap daerah melestarikan kekhasan budayanya tanpa terpengaruh infiltrasi budaya asing .

Tutup dengan Pesan Kuat: “Bangsa lain maju karena menghormati leluhurnya. Kita pun harus begitu!” — Ki Kusnadi, Bapak Budaya .

Red/Hr

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!