Ngopi Bareng Paslingkes, Warga Suarakan Isu Lingkungan

Sidoarjo, Persindonesia.co.id,- Ngaji Pikiran (Ngopi) Bareng yang digelar Paslinkes GP Ansor PAC Sedati, berlokasi di Mushola Al Ikhlas RT 07 Desa Cemandi, Kecamatan Sedati, dihadiri ratusan warga.

Acara tersebut menjadi ruang terbuka untuk menyampaikan keresahan, sekaligus mendengarkan ceramah kebangsaan dan keagamaan dari para tokoh.

Kritik Lingkungan Disampaikan Tanpa Sekat

Berbeda dari forum formal, suasana Ngopi penuh kehangatan. Warga bebas menyuarakan persoalan sehari-hari. Yang paling mencolok adalah masalah lingkungan dan kasus demam berdarah yang mulai muncul di beberapa RT.

Perwakilan Pemerintah Desa Cemandi, Kaur Kesra, mengatakan pihaknya telah menerima laporan warga yang terserang DBD. “Kami minta warga mulai sadar pentingnya kebersihan. Kolam, jamban, tempat air, jangan dibiarkan kotor,” tegasnya, Sabtu malam, 31 Mei 2025.

Dita, Kasi Kesejahteraan Sosial Kecamatan Sedati, juga memperkuat imbauan itu. “Kita tidak boleh buang sampah ke sungai. Lingkungan rusak, penyakit datang,” katanya.

Tausiyah Tentang Amal, Ikhlas, dan Pancasila

Sesi ceramah menghadirkan Ustadz Ashabul Kahfi yang membawakan tema ringan namun menyentuh. Ia menekankan bahwa hidup tidak boleh ditunda dalam hal kebaikan.

“Jangan takut berbuat baik meski ditentang anak atau istri. Kebaikan itu akan kembali untuk mereka juga. Mati tak pernah terjadwal,” ujarnya.

Ia juga menegaskan bahwa Pancasila adalah anugerah yang harus dirawat dengan amal nyata, bukan sekadar slogan.

Sosialisasi Layanan Katarak Gratis dari Koramil

Selain itu, forum ini juga digunakan oleh Babinsa Cemandi Imron Rosyadi dari Koramil 0816/18 Sedati untuk menyampaikan kabar baik: layanan operasi katarak gratis bagi warga kurang mampu.

“Daftar ke Koramil. Syaratnya gampang, cuma bawa fotokopi KTP, KK, dan surat dokter,” jelasnya. Program ini ditujukan untuk warga Sedati dan sekitarnya.

Gus Ali: Bersyukur dan Mendoakan Orang Jahat

Tokoh muda NU KH. Ali Misbahul Munir tampil menyejukkan di sesi dialog. Ia menyampaikan makna dzikir yang tidak hanya ritual, tapi juga sikap hidup.

“Dikir itu mengingat mati. Kalau orang menyakitimu, doakan saja. Itu bukti hatimu lebih kuat,” ucap Gus Ali. Ia mengajak warga untuk lebih bersyukur atas setiap ketentuan Allah, apapun bentuknya.

Gus Sahal: Perlu Ruang Bicara Rakyat

Panitia acara, Gus Sahal Asrori, mengatakan bahwa kegiatan semacam ini perlu diperluas ke dusun-dusun lainnya. “Warga perlu ruang untuk bicara langsung. Ini bukan hanya kajian, tapi gerakan sosial,” ujarnya.

Ngaji Pikiran bukan sekadar duduk ngopi. Ia tumbuh jadi ruang perubahan sosial. Saat suara warga didengar, saat itu pula demokrasi kecil di kampung hidup kembali.

Adi/yn

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!