Kebebasan Pers di Era Digital: Perlindungan Jurnalis dan Peran Media Independen Menurut Hari Wicaksono

Kota Batu, Persindonesia.co.id – Di tengah gempuran disinformasi dan tekanan politik global, kebebasan pers tetap menjadi benteng terakhir demokrasi. Namun, bagaimana nasibnya di era digital saat jurnalis tak hanya berhadapan dengan sensor, tetapi juga ancaman siber dan polarisasi opini? Hari Wicaksono, Komisaris Persindonesia.co.id sekaligus Direktur Utama Siaptv berbicara tegas dalam momentum Hari Kebebasan Pers Internasional: ” Tanpa pers yang merdeka, ruang publik hanyalah panggung propaganda.”

Dunia Makin Berbahaya bagi rnalis: Data yang Mencengangkan
Laporan terbaruReporters Without Borders (RSF) mengungkap fakta suram:
– 3 dari 10 jurnalis di zona konflik seperti Myanmar dan Afghanistan terancam penculikan atau kekerasan fisik.
– Meksiko menjadi “kuburan wartawan” dengan rata-rata 1 reporter tewas setiap bulan.
– 70% negara memberlakukan sensor, mulai dari blokir konten hingga UU yang kriminalisasi kritik media.

“Ini bukan sekadar masalah profesi, tapi perang antara transparansi dan oligarki informasi,” tegas Hari Wicaksono.

Digital: Senjata Double-Edged bagi Kebebasan Pers
Platform digital ibarat pisau bermata dua. Di satu sisi, media online seperti persindonesia.co.id memungkinkan berita independen tembus ke publik. Di sisi lain, ancaman seperti:
– Pembatasan internet ala digital authoritarianism* (contoh: pemblokiran massal di Iran).
– Serangan doxing & peretasan terhadap media kritis.
– Algoritma sosial media yang justru meminggirkan jurnalisme investigasi.

“Kami di Persindonesia.co.id memilih jalan sulit: memberitakan fakta tanpa bias, meski harus berhadapan dengan tekanan pemodal dan buzzer politik,” ungkap Bryan

Indonesia di Persimpangan Demokrasi vs Oligarki Media
Peringkat 112/180 indeks RSF mencerminkan paradoks:
– UU ITE masih kerap digunakan untuk kriminalisasi jurnalis.
– Kepemilikan media yang terkonsentrasi di segelintir konglomerat.
– Kekerasan terhadap wartawan kerap dianggap “biasa”, seperti kasus penyerangan di Papua dan Jawa Barat.

Penutup: “Pers Bebas Bukan Hadiah, Tapi Hasil Perjuangan”
Di akhir wawancara, Hari mengutip pepatah klasik: “Demokrasi tanpa pers bebas bagai tubuh tanpa oksigen.” Tantangan ke depan makin kompleks, tetapi semangat untuk mempertahankan ruang informasi yang sehat tak boleh padam.

“Kami akan terus berdiri di garis depan, sekalipun harus berjalan sendirian,” tandasnya.

Hr/Bryn

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!
Exit mobile version