Kontroversial! Blogger Kanan Ekstrem Adu Debat dengan Profesor Harvard di Acara Ilegal

    Harvard, Persindonesia.co.id – Sebuah debat panas bakal terjadi di kampus Harvard University antara Curtis Yarvin, blogger kontroversial berhaluan ekstrem kanan, dengan seorang profesor terkemuka Harvard dalam acara yang tidak disetujui pihak universitas. Yarvin, yang dikenal dengan pandangan anti-demokrasinya, disebut-sebut ingin memprovokasi kalangan akademisi liberal di kampus bergengsi tersebut.

    Dia percaya monarki otoriter lebih baik daripada demokrasi, apartheid lebih unggul dari hak pilih universal, dan kaum liberal terlalu lemah untuk menghentikannya,” ungkap seorang peneliti dari University of Massachusetts Amherst yang memantau gerakan ekstremis.

    Yarvin, yang kerap disebut sebagai “filsuf bayangan” kalangan elit teknologi Silicon Valley, dikritik karena mendukung visi neo-fasis di balik kedok pemikiran konservatif. Menurut analis, dia dan para “tech bro” pendukung Donald Trump sedang berusaha membentuk tatanan politik baru yang menguntungkan kepentingan mereka.

    Tiga Kekuatan di Balik Trump
    Mengutip sejarawan Quinn Slobodian, peneliti Edward Ongweso membeberkan tiga kelompok yang mendominasi pemerintahan Trump:
    1. Kartel Silicon Valley-Wall Street – Ingin negara bekerja untuk keuntungan korporasi.
    2. Konservatif Anti-Kesejahteraan – Berusaha menghancurkan program sosial.
    3. Anarko-Kapitalis & Monarkis Digital – Ingin mengganti negara dengan tirani swasta.

    “Yarvin adalah penyambung lidah ketiga kelompok ini,” tegas Ongweso.

    Harvard vs Gedung Putih
    Kedatangan Yarvin ke Harvard dinilai sebagai bagian dari perang budaya yang digencarkan sayap kanan AS terhadap dunia akademik. Pemerintahan Trump bahkan mengancam memotong dana pendidikan bagi universitas yang menentang ideologi “MAGA“.

    Ini troll politik terencana,” kata Wendy Via, pakar ekstremisme dari Global Project Against Hate and Extremism. “Dia tahu, menguasai pendidikan adalah langkah pertama menuju otoritarianisme.”

    Ancaman Feodalisme Digital?
    Yarvin dan sekutunya di kalangan elit teknologi dituding ingin menggulingkan demokrasi AS dan menggantikannya dengan sistem mirip feodalisme abad pertengahan – di mana kekuasaan dipegang segelintir oligark.

    Demokrasi AS masih sangat muda dan rentan,” pungkas Ongweso. “Jika Yarvin menang, kita mungkin kehilangan kebebasan untuk selamanya.”

    Laporan lengkap menyusul dari tim investigasi Persindonesia.co.id.

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

    error: Content is protected !!
    Exit mobile version