Tradisi Mitoni Bayi ( Zhafira ) di RT 50 Pusdik Arhanud Kota Batu, Perpaduan Adat dan Nilai Islami

Kota Batu, Persindonesia.co.id – Dhenis N.F dan Irwan Toni sebagai masyarakat Batu yang menjadi Ibu dan Ayah dari anak ke-3nya Zhafira hingga saat ini masih menjaga tradisi Aqiqah dan Mitoni sebagai bentuk syukur atas kelahiran bayinya berusia sekitar 7 bulan berlokasi di RT 50 RW 12 Pusdik Arhanud . ( 10 Mei 2025)

Tradisi ini tidak hanya menjadi bagian dari adat Jawa, tetapi juga diwarnai dengan nilai-nilai Islami, seperti pembacaan ayat suci Al-Qur’an dan doa bersama.

Prosesi Aqiqah dan Mitoni Bayi
1. Persiapan Acara
Keluarga menyiapkan sesajen sederhana seperti kembang setaman, jenang (bubur merah-putih), dan makanan tradisional sebagai simbol syukur. Namun, dalam versi yang diislamisasikan, sesajen lebih digantikan dengan tumpeng atau hidangan halal yang dibagikan kepada tetangga.

2. Pembacaan Ayat Suci Al-Qur’an
Sebelum acara inti, biasanya diadakan pembacaan ayat-ayat Al-Qur’an, seperti Surah Maryam (untuk bayi perempuan), serta doa untuk keselamatan bayi.

3. Pemotongan Rambut (Aqiqah)
Dalam tradisi Islam, Brokohan sering dipadukan dengan aqiqah, dimana rambut bayi dipotong simbolis dan diletakan dalam baskom air berisi bunga.

4. Pemberian Nama
Dhenis N.F dan Irwan Toni sebagai orang tua memperkenalkan nama bayi Olcay Zhafira Rizhan ( Zhafira ), yang biasanya dipilih dari bahasa Arab atau Jawa bernuansa Islami, disertai doa oleh sesepuh atau ustadz setempat.

5. Sedekah dan Makan Bersama
Acara ditutup dengan pembagian makanan kepada tamu sebagai wujud rasa syukur.

Makna di Balik Tradisi
Menurut Dhenis N.F Orang tua Olcay Sahfira Rizhan ( Zhafira ), Aqiqah dan Mitoni adalah bentuk pelestarian kearifan lokal yang telah disesuaikan dengan syariat Islam.

“Alhamdulillah acaranya lancar, ini acara dari Olcay Zhafira Rizhan ( Zhafira ),ini acara 7 bulanan dari anak ke 3 saya,yang saya hubungkan dengan acara Aqiqah anak perempuan saya ini, dimana saya juga mengundang masyarakat sekitar saya juga.

Yang kebetulan saya tinggal di RT 50 Pusdik Arhanud, Kota Batu. Saya senang ibu-ibu senior dan warga sekitar pada datang, saya ucapkan terima Kasih banyak!.”Ujar Dhenis N.F

Dhenis menambahkan dulu acara seperti ini dia adakan dengan ada unsur kejawen yang kental, tapi sekarang dikolaborasikan dengan tahlilan dan doa.

Ibu Toni dari RT 50 Pusdik Arhanud juga mengucapkan : ” Semoga Zhafira menjadi anak yang Solifah dan berbakti, bisa menjadi kebanggaan orang tua, murah rezeki,serta sukses dalam hidupnya.”

Sementara itu, Sulis selaku Ibu RT 50 Pusdik Arhanud setempat, menekankan bahwa tradisi seperti ini harus tetap berpegang pada prinsip Islam, tanpa mengarah pada syirik. “Brokohan boleh dilaksanakan asal tujuannya bersyukur dan sesuai sunnah, semoga Zhafira menjadi anak yang berbakti dan sukses selalu di masa depan.” jelasnya.

Dukungan Masyarakat RT 50 RW 12 Pusdik Arhanud mengapresiasi hybridisasi budaya dan agama ini. “Anak saya juga di-Brokhohan dengan tahlilan. Ini cara kami melestarikan adat tapi tetap islami,” kata Dhenis N.F. seorang ibu muda ini.

Dengan demikian, Aqiqah dan Mitoni di Malang menjadi contoh harmonisasi antara tradisi lokal dan nilai-nilai agama yang terus hidup di masyarakat.

Laporan: Bryan
Foto & Dokumentasi Hari

#BudayaMalang #Brokohan #Islami #Persindonesia

Untuk versi video lengkapnya, kunjungi channel YouTube Persindonesia atau website www.persindonesia.co.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!