Di Tengah Ribuan Jamaah, Bupati Tangerang Tunjuk Seorang Nenek: “Ibu Sopiah, Bapak Hadiahkan Umroh” – Dan Ia Menangis

RAJEG, Persindonesia.co.id – Aroma dupa dan wewangian semerbak memenuhi halaman kediaman Abah Haji Enju di Rajeg, Kabupaten Tangerang, Jumat (29/5/2026) malam.

Ribuan jamaah duduk rapi. Kebanyakan ibu-ibu. Mereka datang dengan kerudung warna-warni. Ada yang membawa anak. Ada yang membawa sajadah.

Suara sholawat bergema. Tim pimpinan Gus Ragil mengalunkan lagu pujian kepada Nabi. K.H. Tubagus Miftah Fauzi, pengasuh Majelis Dzikir dan Sholawat Anugerah, memimpin dengan suara khasnya.

Ini adalah pengajian bulanan. Rutin. Bagi mereka, ini adalah momen menyegarkan iman di tengah kepenatan hidup.

Namun malam itu, sebuah kejutan akan mengubah malam biasa menjadi tak terlupakan.

Malam Jumat di Rajeg: Ribuan Jamaah Penuhi Kediaman Abah Haji Enju

Sejak sore, jamaah sudah mulai berdatangan. Mereka datang dari berbagai desa di Kabupaten Tangerang. Ada dari Rajeg sendiri, dari Mauk, dari Teluknaga, hingga dari Sepatan.

“Setiap bulan saya ke sini. Ini adalah tempat saya menenangkan hati,” ujar Masnah (54), seorang jamaah asal Kresek.

Bagi mereka, majelis ini bukan sekadar pengajian. Ini adalah ruang untuk bersandar. Tempat di mana dzikir dan sholawat menjadi terapi jiwa.

Dan malam itu, ada tamu istimewa: Bupati Kabupaten Tangerang, Drs. H.M. Maesyal Rasyid, M.Si.

Bupati Maesyal Rasyid: “Saya Bersyukur Bisa Hadir di Majelis Ini”

Maesyal Rasyid tiba sekitar pukul 20.00 WIB. Ia didampingi sejumlah pejabat: camat, kepala desa, lurah, dan tokoh masyarakat.

Ia langsung disambut Abah Haji Enju. Jabat tangan. Salaman. Kemudian dipersilakan duduk di panggung sederhana yang didirikan khusus untuk pengajian.

Tak lama, giliran bupati menyampaikan sambutan.

“Saya bersyukur bisa hadir di majelis dzikir dan sholawat yang digelar di kediaman tokoh masyarakat Rajeg, Abah Haji Enju,” ujar Maesyal dengan suara khasnya.

“Semoga kita semuanya diberikan keberkahan dan selalu istiqomah,” tambahnya.

Ribuan jamaah mengamini. Suara “Aamiin” bergema dari barisan belakang hingga depan.

Pertanyaan Sederhana yang Berujung Hadiah Umroh

Usai sambutan, Maesyal Rasyid turun dari panggung. Ia berjalan menyusuri barisan jamaah ibu-ibu yang duduk di tikar.

Bupati itu menyapa satu per satu. Tersenyum. Bersalaman.

Lalu ia berhenti di depan seorang nenek dengan kerudung putih.

“Namanya siapa, Bu?” tanya Bupati.

“Sopiah, Pak,” jawab nenek itu polos.

“Dari mana?”

“Puri Mekar, Pak.”

Maesyal mengangguk. Ia berpaling ke arah jamaah lain. Lalu, dengan mikrofon masih menyala, ia berkata:

“Selamat, Ibu Sopiah dari Puri Mekar. Ibu mendapatkan hadiah umroh dari orang yang nitip ke saya.”

Keheningan sesaat. Lalu sorak-sorai.

Ribuan jamaah bertepuk tangan. Beberapa berteriak “Allahu Akbar”.

Nenek Sopiah hanya terdiam.

Tangis Haru di Tengah Ribuan Jamaah: Nenek Sopiah Tak Kuasa Menahan Bahagia

Nenek Sopiah tak menyangka. Ia datang ke pengajian seperti biasa. Bawa sajadah. Bawa air minum. Tak pernah terlintas bahwa malam itu adalah malam terpenting dalam hidupnya.

Ia menunduk. Tangannya menutup wajah. Air matanya jatuh.

“Ibu Sopiah menangis, Pak,” teriak seorang jamaah dari belakang.

Bupati tersenyum. “Biarkan, itu tangis bahagia.”

Dan memang itu tangis bahagia. Nenek berusia 66 tahun itu tak kuasa menahan haru.

Bertahun-tahun ia hanya bisa bermimpi ke Baitullah. Setiap kali ada tetangga berangkat umroh, ia hanya bisa mengirim doa.

Kini, seorang bupati mewujudkan mimpinya.

Doa Seorang Nenek: “Semoga Pak Bupati Diberi Keberkahan dan Rezeki Melimpah”

Setelah tangisnya reda, Nenek Sopiah akhirnya bisa bicara.

“Alhamdulillah,” katanya terbata-bata.

“Semoga pak Bupati dan keluarganya diberikan keberkahan dan rezeki yang melimpah,” lanjutnya.

Seluruh jamaah mengamini. “Aamiin, aamiin, aamiin ya rabbal alamin,” seru mereka serempak.

Seseorang membantu Nenek Sopiah berdiri. Ia bersalaman dengan Bupati. Pelan-pelan ia mencium tangan bupati.

“Terima kasih, Pak,” katanya.

Maesyal Rasyid membalas dengan senyum. “Sama-sama, Bu. Selamat menunaikan ibadah umroh.”

Kehadiran Pejabat hingga Ribuan Jamaah: Pengajian yang Istimewa

Acara pengajian malam itu memang istimewa. Selain Bupati, hadir pula jajaran camat se-Kabupaten Tangerang, para kepala desa se-Kecamatan Rajeg, lurah, serta tokoh masyarakat.

“Malam ini kami ingin bersilaturahmi sekaligus mendengarkan tausiyah dari K.H. Tubagus Miftah Fauzi,” ujar seorang pejabat yang hadir.

Tausiyah berlangsung sekitar satu jam. Ustad Miftah bercerita tentang keutamaan sholawat. Tentang bagaimana Nabi Muhammad selalu merindukan umatnya yang tak pernah melihatnya.

“Kalau kita rindu Nabi, perbanyak sholawat,” katanya.

Ribuan jamaah melantunkan sholawat bersama. Tim yang dipimpin Gus Ragil menggema dengan merdu.

Sebuah Kejutan yang Menggetarkan Hati

Malam itu, ribuan jamaah pulang dengan cerita.

Bukan hanya tentang dzikir dan sholawat. Tapi tentang seorang bupati yang turun dari panggung, menyapa seorang nenek, lalu mengubah hidupnya dalam sekejap.

Nenek Sopiah pulang dengan tiket umroh di tangan. Ia masih belum percaya. Keluarganya akan terkejut. Tetangganya akan bertanya.

Tapi satu hal yang pasti: malam Jumat di Rajeg akan selalu dikenang.

Bukan karena hiasan panggung yang mewah. Bukan karena katering yang mahal.

Tapi karena di tengah ribuan manusia, seorang nenek sederhana merasakan bahwa pemimpinnya hadir, melihat, dan peduli.

Dan itu, mungkin, adalah esensi sejati dari kepemimpinan.

( Ims/Hr )

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!