Pulau Sepanjang, SUMENTEP, MADURA, Persindonesia.co.id – Dalam sebuah rumah sederhana di Pulau Sepanjang, Kecamatan Sapeken, tawa dan sholawat menggema. Malam ini adalah malam “Midodareni” untuk pasangan calon pengantin.(17/12/2025)

Cahaya dari listrik yang baru menyala setahun lalu menerangi wajah-wajah penuh harapan. Namun, di balik sukacita adat yang terjaga, para tetua dan orang tua menyimpan kegelisahan yang sama: masa depan anak-cucu mereka di pulau terluar ini masih diselimuti ketidakpastian.

Investasi Made, seorang jurnalis yang pulang kampung ke keluarganya di pulau ini, mengungkap sebuah paradoks. Di satu sisi, tradisi dan kohesi sosial masyarakat Pulau Sepanjang, terutama Suku Bajo yang dominan, sangat kuat dan terjaga. Ritual pernikahan adat yang disebut “Manganro” atau “Akad Nikah di Laut” bagi sebagian nelayan masih dilakukan, simbol penyatuan dengan alam yang menghidupi.

“Kami ingin warisan ini terus hidup. Tapi kami juga ingin anak-anak kami yang menikah nanti punya masa depan yang lebih terjamin di sini, bukan harus pergi,” ujar Andi Mappa (58), tokoh masyarakat.
Namun, jaminan itu masih jauh dari kenyataan. Made mendapati, meski listrik telah hadir, akses transportasi laut yang tidak menentu tetap menjadi “penjara alami”.

Ia sendiri harus menunggu tiga hari di pelabuhan Sapeken untuk bisa menyeberang. “Jika ada keadaan darurat medis saat cuaca buruk, atau persalinan bermasalah, itu adalah mimpi buruk kolektif warga sini,” tutur Made.
Harapan warga yang dihimpun Made tidak muluk-muluk. Mereka mendambakan “Paket Pernikahan” dari negara: kehadiran infrastruktur yang memadai sebagai fondasi membangun rumah tangga.
Moh Rolly (32), tokoh pemuda, menyampaikan: “Kami butuh dermaga yang layak agar kapal penumpang dan pengantin barang bisa sandar dengan aman kapan pun. Kami butuh puskesmas dengan tenaga bidan dan perawat tetap, agar ibu hamil tidak resah. Kami butuh sinyal internet yang stabil, agar anak-anak kami yang sudah nikah dan kerja di luar bisa tetap terhubung.”

Pulau Sepanjang, dengan gelaran adat yang megah di laut, justru mempertanyakan kehadiran negara di darat. Upacara pernikahan adat adalah janji suci dua insan; harapan warga adalah janji keadilan yang masih ditunggu dari pemerintah.
Made/Bryn
Baca juga;
Tinjau Posko Pengungsian di Takengon, Prabowo Pastikan Warga Tidak Sendiri
Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam Channel Persindonesia.co.id Melalui Channel Yuotube, kami akan terus mengirimkan pesan rekomendasi berita-berita update yang menarik. Mulai Saluran Tiktok, IG, Snackvideo, LinkedIn, Facebook, Tumblr, Pinterest, Twiter hingga Youtube dan sebagainya terupdate dari Persindonesia.co.id.Untuk dapat menontonnya silakan klik dibawah ini :
