New York, Persindonesia.co.id – Diam Berarti Membiarkan, suara lantang aktivis Indonesia, Wilson Lalengke, menggema di ruang konferensi PBB, menantang dunia untuk tidak lagi berpaling. Dalam pidato berdurasi tiga menit yang penuh tekanan, Wilson menyerukan tindakan segera untuk mengakhiri “penderitaan puluhan tahun” yang dialami pengungsi Sahrawi di kamp-kamp Tindouf, Aljazair.
“Diam berarti terlibat membiarkan tragedi kemanusiaan itu terjadi!” tegas Ketua Umum PPWI itu, menyentak para diplomat dan perwakilan masyarakat sipil yang hadir. Pidatonya di Komite Keempat PBB itu secara khusus menyoroti laporan-laporan mengerikan tentang eksekusi di luar hukum, penahanan sewenang-wenang, dan penyiksaan sistematis yang diduga terjadi di bawah kendali Front Polisario.
Mewakili para jurnalis warga Indonesia, Wilson tidak hanya berpidato. Dia menyodorkan petisi resmi yang menuntut tiga hal konkret: penyelidikan independen di bawah PBB, proses hukum bagi semua pelaku, dan perlindungan bagi para pengungsi yang tak berdaya.

“Populasi pengungsi di Kamp Tindouf berhak atas keadilan, martabat, dan hidup bebas dari rasa takut,” serunya di akhir pidato, mengingatkan bahwa hukum internasional harus tegak.bahkan di sudut terpencil Gurun Sahara sekalipun.
Pidato yang menyentuh hati ini menjadi pengingat akan tanggung jawab global untuk memecah kebuntuan politik yang telah mengorbankan nyawa manusia selama puluhan tahun.
